Breaking News:

166 Remaja di Kota Kupang Terinveksi HIV AIDS

Sebanyak 166 anak usia 15-25 tahun di Kota Kupang telah terinveksi virus HIV AIDS dalam kurun waktu tahun 2000-2016.

166 Remaja di Kota Kupang Terinveksi HIV AIDS
Pos Kupang/ant
HIV/AIDS (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

“Kita satu-satunya Propinsi di Indonesia yang memiliki WPA. Tidak ada hari tanpa sosialisasi. Tahun 2016 yang sudah 12.413 warga ikut sosialisasi dan 7.558 warga secara sukarela test HIV/AIDS. Dari test itu inveksi HIV/AIDS tidak sampai 1 persen. Hal ini menunjukan bahwa sekarang masyarakat sudah sadar dam tidak takut lagi test HIV/AIDS meski masih ada juga yang belum berani test,” kata Bebok.

Bebok mengatakan virus HIV/AIDS sudah menyerang pelajar sejak beberapa tahun lalu. “Ada dua pelajar SMP yang terserang virus ini tahun 2013 lalu, mereka tertular lewat hubungan seks beresiko dengan banyak orang. Kini mereka sudah kuliah dan tetap dalam pendampingan kami,” kata Bebok 

Kami punya pengalaman, ada anak SMP, dua orang mereka berpacarana setelah dites mereka terinveksi HIV. Pertanyaannya, jika mereka masih suci darimana virus HIV itu masuk. Kedua, mereka bias kena dari jarum suntik atau narkoba. Ketiga mereka berhubungan seks tidak aman atau beresiko dengan banyak pasangan. Sekarang mereka sudah di PT dan mereka sehat karena rajin konsumsi obat ARV.

“Kita harus tahu betul siapa orangnya dan dimana tempat  tinggalnya. Jika tahu kami akan dekati mereka untuk bias menerima dan buka diri. Rahasia itu adalah salah satu aturan. Jika kita buka status, kita langgar ham.  Tapi kita harus buka dengan teknik tertentu tujuannya supaya kita bisa selamatkan mereka agar tidak mati konyol,” kata Bebok.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sejumlah anak sekolah sudah melakukan hubungan seks dan ini merupakan kesalahan dan tanggungjawab kita semua, orangtua, guru, pemerintah dan pihak terkait lainnya.

“Jangan lagi tabu bicara tentang pendidikan seks di rumah dan di sekolah. Ada program abat (aku bangga, aku tahu) ke sekolah untuk sosialisasi HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi bagi pelajar,” kata Bebok.

Setiap kelurahan ada 1 WPA dengan 10 pengurus, dua orang dilatih menjadi pendamping dan 51 WPA di kelurahan itu dikordinir oleh 9 pendamping  dari Flobamora Support dan LSM Perjuangan dan dibantu oleh KPAD dan tim medis di dinkes atau rumah sakit.

Pendidikan seks di sekolah dan di rumah itu penting dilakukan. “Kalau kena HIV/AIDS, dunia belum kiamat, odha masih bisa hidup. Karena begitu kita minum obat teratur maka kita yang kena HIV/AIDS itu bias menjadi sehat bahkan lebih sehat dari orang yang tidak kena HIV/AIDS.  (*)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved