Breaking News:

166 Remaja di Kota Kupang Terinveksi HIV AIDS

Sebanyak 166 anak usia 15-25 tahun di Kota Kupang telah terinveksi virus HIV AIDS dalam kurun waktu tahun 2000-2016.

166 Remaja di Kota Kupang Terinveksi HIV AIDS
Pos Kupang/ant
HIV/AIDS (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

"Kami akan memberikan konseling penerimaan diri agar dia bisa menerima keadaan yang ada dan mereka meningkatkan rasa percaya diri. Setelah itu konseling pengobatan yang harus dikonsultasikan dengan pihak rumah sakit lalu tahap konseling dukungan agar dia  konsisten minum obat ARV," kata Emil.

Tahap konseling pengenalan diri itu yang agak sulit dilakukan karena biasanya odha akan mengalami stress karena belum bisa menerima kondisinya. "Saat dia tahu terinveksi, pasti dia stress tidak bisa menerima. Banyak yang ingin bunuh diri. Ada anak yang ingin bunuh diri, saat dia dari Batam ke Kupang, dia mau lompat dari jendela pesawat. Tapi kemudian kita dampingi dan kita jemput dari bandara. Kita berikan konseling dan sekarang dia malah sudah jadi pendamping di lapangan," kata Emil.

Tahap berikut adalah konseling untuk menyampaikan kondisi odha pada keluarganya atas persetujuan odha. Selanjutnya tahap pengobatan agar dia bisa patuh minum obat ARV. "Untuk tahap ini kita berkerjasma dengan rumah sakit, karena kapan mulai pengobatan hanya rumah sakit yang tahu, biasanya harus melalui test labratoriun untuk mengetahui kesehatan inveksi oportunistis dan lainnya," kata Emil.

Masing-masing tahapan itu butuh waktu sekitar 3 bulanan meski ada yang lebih cepat atau lebih lama tergantung banyak faktor. "Biasanya kami sampaikan ke odha, terinveksi HIV/AIDS  itu bukan kiamat atau kematian. HIV/AIDS bisa sembuh jika odha mau buka diri, minum obat teratur dan mau terbuka dengan keluarga dan ingkungan serta tidak lagi menjalani kehidupan beresiko," kata Emil.

"Paling lama tiga bulan keluarga sudah bisa menerima kondisi anaknya. Kecuali yang berpangkat polisi, tentara, pejabat atau pengusaha yang kaya itu biasanya peneriaannya lama, bahkan menututp sama sekali dan kenyataannya yang menutup diri itu anaknya yang odha itu akan meninggal dunia.

Menurut Emil, dalam pendampingan odha, para pendamping harus bisa menjalankan 5 pilar roda berdaya. Pertama, meningkatkan keperayaan diri odha. Kedua, memberikan pengetahuan tentang HIV/AIDS. Ketiga, membuat odha mandiri untuk mengakses layanan kesehatan. Keempat, membuat odha berkomiten stop HIV/AIDS dan tidak menularkan ke orang dan rajin minum obat ARV. Kelima, membuat odha menjalani kehidupan positi tak beresiko.

Emil perpesan agar masyarakat bisa sadar dan mau melakukan test HIV/AIDS sejak dini dan mau menerima odha dalam kehiduannya. "Tahu status lebih cepat lebih baik. Sebaiknya datang test supaya tahu status kesehatan lebih cepat daripada terlambat nanti sudah stadium akhir. Terimalah setiap siapa pun yang terinveksi HIV/AIDS dan beri dukungan supaya odha juga bisa hidup mandiri dan tidak tularkan virus itu ke orang lain," kata Emil.

Hal senada disampaikan Ketua LSM Perjuangan, Emu Lisnahan, Senin (15/5/2017) malam. Menurutnya, mereka mendapingi sekitar 800 odha dan 5 orang berusia 0 samai 10 tahun. "Lima  pendaping kami ikut mensosialisasikan HIV/AIDS kepada warga di dua puluhan kelurahan di Kota Kupang bersama KPAD dan Dinkes NTT.

Sekretaris KPAD Kota Kupang, Agus Bebok, Jumat (12/5/2017) pagi mengatakan, dari taun 2000 hingga 2016, jumlah kasus HIV/AIDS ada 1.015 kasus yakni 708 HIV dan 307 AIDS. Penyebarannya merata di enam kecamatan dengan urutan Maulafa, Alak dan Oebobo, Kota Lama, Kota Raja dan Kelapa Lima.

Untuk menekan menularan HIV/AIDS sejak tahun 2014 telah dibentuk Warga Peduli AIDS (WPA) di 51 kelurahan. Pihak dinkes dan KPAD kerjasama dengan WPA mendatangi masyarakat di setiap kelurahan dengan VCT Mobile untuk memberikan sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk test HIV/AIDS.

Halaman
123
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved