Petani Desa Penfui Timur Ini Raih Omset Rp 9 Juta

Luas lahan kebun 650 meter persegi. Namun di atas lahan ini ada 18 jenis sayuran yang ditanam oleh Gestianus Sino. Gesti hanya tinggal menunggu pesana

Petani Desa Penfui Timur Ini Raih Omset Rp 9 Juta
POS KUPANG/YENI RAHMAWATI TOHRI
Pemilik Kebun Sayur Organic, Gesti sedang mencabut rumput di kebunnya, Selasa (16/5/2017). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Yeni Rachmawati

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Luas lahan kebun 650 meter persegi. Namun di atas lahan ini ada 18 jenis sayuran yang ditanam oleh Gestianus Sino. Gesti hanya tinggal menunggu pesanan hasil taninya via mail dan wa saja.

Berlokasi di Jalan Nomelakatosi Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah Gesti menanam 18 jenis sayuran. Diantaranya ada tanaman yang unik seperti kailan.

Ia juga menanam lobak, somat, brokoli, pokcoy, caisim, kangkung, bayam, tomat, terong ungu, terong hijau dan tanaman lainnya yang ia budidayakan.

Dari hasil tanaman tersebut, Gesti menargetkan hasil tanamannya harus bisa masuk ke Pasar Moderen seperti Hypermart 1 dan 2, Aston Hotel, Kantor Umum Pemerintahan, Balai Pom dan Perumahan-Perumahan misalnya Pondok Indah Matani.

"Saya bisa masuk ke Hypermart karena registrasinya harus sayur organic. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi yang mengetahui aktifitas saya, sehingga datang mengambil sampel dan diuji. Hasil lab-nya pun keluar, sayur saya pun dikategorikan sayur yang sehat untuk dikonsumsi. Dari hasil itulah sebagai bahan lampiran ke Hypermart untuk suatus standar sayur organic yang dapat masuk ke Hypermart, " katanya ketika ditemui Pos Kupang, di Kebunnya, Selasa (16/5/2017).

Selama ini, kata Gesti, ia meregistrasi 16 jenis sayur yang masuk ke pasar moderen tersebut. Semuanya tergantung komunikasi antara dirinya dengan pihak Hypermart. Bulan ini ia akan kembali memasukkan hasil taninya ke Hypermart. Karena ia masih menunggu hasil lab sayurannya. Bila sudah ada hasil tersebut, akan segera dibawa ke Hypermart.

Sedangkan Aston Hotel biasanya mengambil pepaya, brokoli, kailan dan lobak.

"Teman-teman dari Aston sudah berkali-kali datang untuk mengecek brokoli dan kailan. Karena menurut mereka brokoli punya saya beda dengan dari Surabaya. Dari Surabaya brokolinya kecil-kecil. Kebutuhan hotel tergantung even. Seperti tahun lalu kedatangan Presiden, hotel butuh brokoli 150 kg, kailan 100 kg dan pepaya 80 kg. Kalau rutinitas atau kegiatan kecil sekitar 5-10 kg," tuturnya.

Gesti berani menanam brokoli karena dirinya ingin mencoba. Kebanyakan petani tidak ingin menanam brokoli karena faktor mendengar kabar dari orang yang belum berbuat sudah mengatakan sulit, usia tan lama dan menyangkut harga.

"Pada dasarnya saya mencoba sambil melaksanakan aktifitas pertanian dan cari pasaran. Awalnya memang susah pasaran tapi sekarang tinggal tunggu pesanan lewat email dan wa, " ujarnya sambil tersenyum.

Selain menanam sayuran. Gesti juga memanfaatkan lahannya untuk beternak ayam bangkok, bebek dan kambing. Ia juga membudidayakan ikan leleh. Omset yang ia peroleh dari bertani saja sekitar Rp 9.000.000 per bulan.

Awalnya ia menanam karena kebutuhan keluarga. Namun lama-kelamaan kebutuhan itu pun menjadi lebih besar. Menurut Gesti bila ingin jadi petani harus total dan memiliki identitas.

Dari awal orang mengenal sebagai petani, maka identitas itu jangan ditinggalkan. Cenderung orang merasa menjadi pegawai negeri sesuatu yang istimewa padahal dengan bertani juga tidak masalah. Petani bisa hidup dengan mengurus kebun.*

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved