Kemelut SMK Mathilda Nagekeo

Sambil Menangis, Elisabet berkata Kami Berharap Ada Mujizat dalam Konflik SMK Mathilda Nagekeo

Lima remaja puteri duduk termenung di atas fondasi bangunan di belakang gedung panjang bercat putih.

Sambil Menangis, Elisabet berkata Kami Berharap Ada Mujizat dalam Konflik SMK Mathilda Nagekeo
THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad

POS KUPANG.COM, MBAY -- Lima remaja puteri duduk termenung di atas fondasi bangunan di belakang gedung panjang bercat putih.

Mereka berharap ada mujizat yang bisa mengubah keputusan Ketua Yayasan Abraham untuk melanjutkan kembali proses belajar mengajar di gedung putih tersebut.

Elisabet Lae (17), satu dari lima remaja itu tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan tentang peristiwa 7 April lalu yang berujung pada pembubaran SMK Mathilda Nagekeo tempat mereka menuntut ilmu.

Para Siswa dan orang tua siswa SMK Mathilda ketika mengadu ke DPRD Nagekeo, Kamis (27/4/2017).
Para Siswa dan orang tua siswa SMK Mathilda ketika mengadu ke DPRD Nagekeo, Kamis (27/4/2017). (Foto PK/ adiana ahmad)

Dengan berurai air mata, Elisabet yang ditemui di Asrama Sekolahnya di Aeramo, Jumat (28/4/2017), mengaku sedih dengan ketidakjelasan masa depan mereka di sekolah itu.

"Kami datang jauh-jauh dari Bajawa untuk bisa masuk di sekolah ini. Sampai di sini kami seperti ini. Kasihan orang tua kami. Mereka bekerja keras kumpul uang agar saya bisa sekolah. Saya mau pulang tapi malu. Orang tua menyuruh kami bertahan. Siapa tahu ada mujizat yang bisa meluluhkan Ketua Yayasan untuk mengubah keputusannya," kata Elisabeth sambil terisak.

Selain Elisabet, ada Rensa Gae (16) dan Felisita Meo (17). Keduanya juga dari Bajawa.

Elisabet, Rensa dan Felisita yang mengambil jurusan farmasi mengaku kecewa dengan konflik yang terjadi di sekolah itu.

"Sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami akan tetap bertahan disini. Kami berharap pengurus yayasan mau berbuka hati. Kasihan nasib kami. Kami masih butuh sekolah," kata Rensa dan Felisita sambil menahan tangis.

Menurut mereka cukup sulit untuk pindah ke sekolah lain di tengah persiapan ujian kenaikan kelas. "Uang sekolah sudah lunas satu semester. Kalau pindah ke Maumere dan Ruteng kami barus bayar kost lagi. Kami harus menyesuaikan ulang dari awal.

"Seharusnya tanggal 29 Mei kami ujian. Setelah ujian, kelas II akan praktek tiga bulan dan kelas satu praktek dasar satu bulan. Tapi dengan kondisi seperti ini, rencana ujian dan program lain tidak jelas," kata Elisabeth.

ketiganya mengatakan, kekuatan mereka bertahan karena orang tua. "Kami kecewa. Kami hanya berharap Ketua Yayasan membuka hati untuk membuka kembali sekolah ini.tapi terakhir kami dapat informasi, Ketua yayasan mengatakan keputusannya sudah bulat. Jadi kami bagaimana?" tanya mereka.

Saat ini tercatat ada 250 siswa di SMK Mathilda Nagekeo terdiri dari kelas satu, 97 orang , kelas tiga 85 orang dan sisanya kelas dua, nasibnya tidak jelas karena konflik antara aekolah dan Yayasan Abraham Maumere sebagai pemilik sekaligus pengelolah sekolah tersebut.

Sementara para orang tua wali murid SMK Mathilda Nagekeo ketika bertemu DPRD Nagekeo, Kamis (27/4/2017), menyatakan siap memberikan jaminan keamanan kepada pengurus yayasan dan para guru dari yayasan yang akan ditempatkan di sekolah itu jika Yayasan Abraham mengubah keputusannya dan membuka kembali sekolah tersebut.

"Kalau yayasan mengubah keputusannya, kita siap memberikan jaminan keamanan," kata salah satu perwakilan orang tua murid, Adha Servasius.*

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved