Kemelut SMK Mathilda Nagekeo

Orang Tua dan Siswa SMK Mathilda Datangi DPRD Nagekeo

Orang tua, siswa dan guru SMK Mathilda Nagekeo, Kamis (27/4/2017), mendatangi DPRD Nagekeo.

Orang Tua dan Siswa SMK Mathilda Datangi DPRD Nagekeo
Foti PK/ adiana ahmad
Para Siswa dan orang tua siswa SMK Mathilda ketika mengadu ke DPRD Nagekeo, Kamis (27/4/2017). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad

POS KUPANG.COM, MBAY -- Orang tua, siswa dan guru SMK Mathilda Nagekeo, Kamis (27/4/2017), mendatangi DPRD Nagekeo.

Kedatangan mereka untuk mengadu tentang nasib 450 siswa yang sedang menuntut ilmu di sekolah itu setelah sekolah itu dibubarkan Yayasan Abraham Maumere awal April lalu.

Kedatangan para orang tua, guru dan siswa SMK Mathilda diterima langsung tiga Pimpinan DPRD Nagekeo, Marselinus Ajo Bupu (Ketua), Kristianus Dua Wea (Wakil Ketua I), Florianus Papu (Wakil Ketua II) bersama beberapa Anggota DPRD Nagekeo di Ruang Paripurna DPRD Nagekeo.

Dominggus Dore, salah satu tokoh masyarakat peduli pendidikan, mengatakan, tindakan Yayasan Abraham yang menutup SMK Mathilda secara sepihak merendahkan harkat fan martabat Pemerintah dan Masyarakat Nagekeo.

"Harga diri daerah ini diinjak-injak. Dia masuk lewat pintu depan, keluar lewat jendela bahkan kisi-kisi," kata Dominggus.

Hal yang sama juga disampaikan Tokoh Masyarakat Aeramo, Adha Servasius. Ia mengatakan, konflik di SMK Mathilda merupakan konflik internal Yayasan dengan beberapa oknum guru. "Mengapa sekolah yang ditutup. Banyak anak jadi korban. Kita minta Yayasan Abraham mencabut kembali keputusannya. Jika tidak ada itikad baik, asset berupa gedung dan tanah kami sita," tegas Servasius.

Servasius bahkan menilai Yayasan Abraham telah menipu, mencuri dan membunuh generasi Kabupaten Nagekeo. "Di dalam asset Yayasan ada kontribusi orang tua, siswa dan pemda," katanya.

Servasius mengatakan, jika Yayasan Abraham berubah pikiran pihaknya akan memberikan jaminan keamanan.

Ia juga meminta Kapolres Ngada menangguhkan penahanan siswa yang ditahan agar siswa tersebut bisa menyelesaikan administrasi pendidikannya.

Ketua Komite SMK Mathilda, Patris mengatakan, persoalan di SMK Mathilda Nagekeo tidak sekedar menutup sekolah dan memindahkan anak didik ke sekolah lain.

" Nilai US ada pada guru-guru yagg sudah diberhentikan. Bagaimana dengan keabsahan nilai tersebut. Siapa yang menyidangkan kelulusan siswa. Apakah guru yang diberhentikan masih mempunyai kewenangan? Anak-anak kelas 1 dan 2 , dua minggu lagi ujian naik kelas. Guru-guru sudah diberhentikan, sekolah sudah tutup, kalau mau pindah ke sekolah lain cukup sulit karena limit waktu yang cukup pendek," demikian Patris.

Salah seorang guru mengatakan, selama ini para siswa hanya bisa pindah pada semester ganjil. Kalau semester genap, katanya, cukup sulit. " Kami sudah komunikasi dengan beberapa sekolah. Mereka jawab, tidak bisa lanjut kecuali ulang dari kelas satu," katanya.

Ketua Komisi II DPRD Nagekeo, Safar, S.E mengatakan, tindakan yang dilakukan Yayasan Abraham masuk dalam kategori kejahatan kerah putih.

"Sekolah dilikuidasi, guru dieliminir. Siswa jadi korban. Kalau tidak ada jalan keluar, tempuh jalur hukum. DPRD bentuk Pansus (panitia khusus)," kata Safar.*

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved