Minggu, 26 April 2026

Paus Fransiskus Kunjungi Mesir, Pengamanan Tingkat Tinggi Disiapkan

Kairo sendiri telah mengerahkan keamanan tingkat tinggi untuk menjamin keselamatan Paus Fransiskus dalam lawatannya itu.

Editor: Ferry Jahang
AP/Max Rossi
AP/Max Rossi Syeik Ahmed el-Tayyib, imam besar Al Azhar, Kairo, Mesir, bertukar cendera mata dengan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus dalam audiensi pribadi keduanya di Istana Apostolik, Vatikan City, Senin (23/5/2016) 

POS KUPANG.COM, VATICAN CITY- Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus, bersiap bertolak ke Mesir, Jumat (28/4/2017), untuk meningkatkan hubungan dengan umat Islam.

Paus juga ingin menunjukkan solidaritas dengan komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah di Mesir setelah beberapa kali diserang kelompok teroris.

Kairo sendiri telah mengerahkan keamanan tingkat tinggi untuk menjamin keselamatan Paus Fransiskus dalam lawatannya itu.

Mesir belakangan ini menjadi semakin tidak aman oleh sejumlah serangan bom. Serangan terbaru melanda gereja-gereja Koptik di dua kota di Mesir pada awal April yang menewaskan 45 orang.

Terkait serangan tersebut, pemerintah Presiden Abdel Fattah el-Sisi telah menerapkan negara dalam keadaan darurat untuk masa tiga bulan ke depan. Kunjungan Paus pun masih dalam status tersebut.

Namun, Paus berusia 80 tahun yang lebih memilih kontak langsung dengan orang-orang di sekitarnya, akan menghindari penggunaan mobil lapis baja dan mobil terbuka bergaya militer.

Selama lawatan dua hari, Fransiskus akan bertemu empat mata dengan imam besar masjid Al Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb, seorang profesor filsafat Islam yang mengunjungi Vatikan tahun lalu.

Langkah Paus itu tentu saja untuk mengurangi satu dekade ketegangan dan keduanya juga ingin memajukan peradaban manusia dengan terus mendorong perdamaian.

Hubungan Al Azhar dan Vatikan terganggu oleh pendahulu Fransiskus, yakni Paus Benediktur XVI dalam pidator tahun 2006 yang mengaitkan Islam dengan kekerasan.

Juga komentar Benediktus XVI pada 2011 yang mengecam sebuah serangan terhadap sebuah gereja Koptik di Mesir, yang oleh Al Azhar dikritik sebagai campur tangan atas urusan dalam negeri Mesir.

Universitas Al Azhar, yang dipandang sebagai pusat cendekiawan Islam Sunni akan menyelengarakan konferensi perdamaian internasional pada Jumat (28/4/2017).

" Paus Fransiskus akan berbicara sebagai peserta biasa," demikian juru bicara Vatikan, Greg Burke.

Paus Fransiskus telah menjadikan dialog antaragama dan rekonsiliasi sebagai tema utama karya kepausannya.

Ia akan bergabung dalam konferensi di Al Azhar itu bersama Patriarkh Bartolomeus I

Uskup Agung Konstantinopel, pemimpin spiritual gereja Orthodox dan sahabat karibnya.

Paus kelahiran Argentina itu akan bertemu dengan Presiden Abdel Fattah el-Sisi dan akan menghadiri sebuah resepsi bersama dengan 1.000 tamu undangan.

Presiden Sisi, yang dikritik secara internasional atas pelanggaran HAM, tetap menunjukkan keterbukaan tertentu komunitas minoritas Kristen di dalam negerinya sejak berkuasa pada tahun 2014.

Sisi merupakan kepala negara pertama Mesir yang menghadiri misa Natal pada tahun 2015.

Selain itu, pemimpin 1,3 miliar umat Katolik di dunia akan mengakhiri agenda hari Jumat itu dengan menggelar pertemuan pribadi dengan pemimpin Gereja Koptik, Paus Tawadros II.

Mereka akan berjalan kaki bersama-sama ke gereja Koptik Saint Peter dan Saint Paul di jantung kota Kairo, yang terkena serangan bom pada Desember 2016 yang diklaim oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS) yang menewaskan 29 orang.

Pada Sabtu (29/4/2017), Paus Fransiskus akan memimpin perayaan misa dan pertemuan dengan komunitas kecil Katolik di Mesir, yang diperkirakan berjumlah sekitar 165.000 orang.

"Paus ingin mencoba membangun kembali hubungan persaudaraan" dengan Al Azhar dan Mesir, kata Samir Khalil, pakar kajian Islam-Kristen di Pontifical Oriental Institute di Roma.

Koptik Mesir, yang berpopulasi sekitar 10 persen dari total populasi negara berpenduduk 90 juta itu, merupakan minoritas Kristen Timur Tengah terbesar dan salah satu yang tertua.

"Situasi mereka telah berubah selama 10 tahun terakhir di bawah pengaruh Ikhwanul Muslimin, yang telah mulai menghasut sentimen anti-Kristen," kata Khalil.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved