Minggu, 17 Mei 2026

Teriakan Lelaki Sumba, Menyihir Padang Ilalang Saat Menjalani Ritus Adat Pasola

HUH-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Suara saling sambut berulang diucapkan rato, pemangku adat Wanokaka

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. 

POS KUPANG.COM -- HUH-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Huh-huh-huh.... Suara saling sambut berulang diucapkan rato, pemangku adat Wanokaka, sambil berjalan menuju Pantai Wanokaka Pahiwi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada pagi buta.

Suara yang dilontarkan rato terus diucapkan untuk memanggil cacing laut (nyale) menepi ke bibir pantai.

Ritus nyale atau mengambil cacing laut merupakan prosesi adat yang wajib dilalui masyarakat adat Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, sebelum kegiatan pasola dilakukan.
Ritus nyale atau mengambil cacing laut merupakan prosesi adat yang wajib dilalui masyarakat adat Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, sebelum kegiatan pasola dilakukan. ((KOMPAS/LUCKY PRANSISKA))

Ritus nyale atau mengambil cacing laut merupakan prosesi adat yang wajib dilalui masyarakat adat sebelum kegiatan pasola dilakukan.

PASOLA -Atraksi pasola di Wanokaka tahun lalu.
PASOLA -Atraksi pasola di Wanokaka tahun lalu. (Petrus Piter)

Selain untuk dikonsumsi, nyale yang muncul pada bulan tertentu tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat adat yang menganut kepercayaan marapu sebagai medium komunikasi mereka terhadap leluhur.

Umumnya nyale muncul selama tiga hari berturut-turut. Sayangnya, tahun ini, nyale tidak muncul hingga perayaan pasola berlangsung.

Pasola
Pasola (istimewa)

Salah satu penyebabnya adalah ada pergeseran hari pelaksanaan pasola oleh pemerintah setempat.

Setiap nyale yang ditangkap adalah jawaban terhadap kehidupan yang akan mereka jalani ke depan. Dalam sejarahnya, nyale dan pasola merupakan ritus kawin-mawin antara suku Kodi dan Waiwuang.

Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. ((KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

Kala itu nyale digunakan Teda Gaiporana, pemuda suku Kodi, sebagai mahar untuk mempersunting Rabu Kaba, janda Umbu Dulla dari suku Waiwurang.

Pernikahan kontroversial memunculkan pertentangan di antara dua suku. Untuk melepaskan dan mengakhiri dendam di antara kedua suku, dilakukanlah prosesi adat pasola.

KAMPUNG ADAT SUMBA
KAMPUNG ADAT SUMBA (ISTIMEWA)

Sebagai puncak ritus adat, masyarakat adat menyelenggarakan pasola. Pasola dilakukan secara berkelompok oleh dua kampung adat atas (pegunungan) dan kampung adat bawah (pesisir).

Penonton Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Penonton Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. (KOMPAS/ARBAIN RAMBEY)

Puluhan laki-laki dari dua kelompok adat ini masing-masing menunggang kuda sambil membawa lembing kayu tumpul untuk dilemparkan mengenai tubuh penunggang kuda lawan.

Mereka secara bergantian dan kadang secara serempak melemparkan lembing ke arah lawan, kemudian mundur kembali ke barisan. Demikian terus berulang hingga rato, menyatakan pasola berakhir.

Perempuan Sumba di Kampung tradisional Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang memikul periuk tanah. Ini merupakan atraksi budaya yang diperlihatkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kampung tersebut. Para fotografer sangat suka memotret di kampung itu karena keaslian dan keunikan rumah adat serta warganya yang memikul periuk tanah.
Perempuan Sumba di Kampung tradisional Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang memikul periuk tanah. Ini merupakan atraksi budaya yang diperlihatkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kampung tersebut. Para fotografer sangat suka memotret di kampung itu karena keaslian dan keunikan rumah adat serta warganya yang memikul periuk tanah. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)

Peserta pasola hanya diikuti kaum laki-laki tanpa batasan usia. Pasola dimulai di pantai seusai menangkap nyale, dinamakan pasola pantai.

Kemudian secara bergerombol penunggang kuda menuju lapangan pasola yang sudah ditetapkan rato.

Sebagian warga adat kini tak lagi menganut kepercayaan marapu.

Ada di antara mereka yang menjadi umat Kristiani, tetapi mereka tetap menjalani ritus adat setiap tahun sebagai bentuk kepatuhan terhadap warisan leluhur. (Kompas.Com/Lukcy Pransiska)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved