Pater Robert Ramone, CSsR Merasul Lewat Budaya
Rumah Budaya Sumba merupakan miniatur Sumba keseluruhan, karena di sana ada museum yang menyimpan artifak peradaban orang Sumba berusia ratusan tahun.
Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Gerardus Manyela
Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Gerardus Manyella
MENJADI pastor adalah panggilan hidupnya.Mencintai budaya dan melestarikannya adalah karya kerasulan.Antara panggilan hidup dan karya kerasulan disatupadukan dalam menggembalakan umat.
"Kalau mau santai, saya hanya duduk manis di biara, berdoa secara teratur, makan minum, istirahat teratur dan melayani umat sesuai dengan panggilan hidup sebagai seorang imam".
Itulah Pater Robert Ramone,CSsR, pengelola Rumah Budaya Sumba yang gencar mempromosikan pariwisata Sumba ke belahan dunia. Berkat promosinya yang gencar, banyak wisatawan mengunjungi pulau para dewa yang selama ini terlupakan.
Di temui di Rumah Budaya Sumba, Selasa (21/2/2017), Pater Robert, demikian sapaan akrabnya, menuturkan berbagai suka dan dukanya menjalani panggilan dan karya kerasulan.
"Saya lahir dari keluarga miskin, listrik saja belum ada. Ini yang mendorong saya untuk berbuat sesuatu membantu anak-anak Sumba untuk keluar dari masalah kemiskinan," kisah Pater Robert saat bincang-bincang santai di Cafe Redemtoris, Waikelo, Selasa (22/2/2017) sore.
Dedikasinya melestarikan budaya Sumba diawali melalui
foto. Melalui foto-fotonya yang indah dan penuh kesan, Pater Robert memperkenalkan Sumba kepada dunia. Ia juga mendirikan rumah budaya yang menjadi miniatur Sumba.
Berkat karyanya itu, Pater Robert menerima beberapa penghargaan atas karya melestarikan budaya Sumba.
Segudang penghargaan seperti NTT Academia Award 2010,
Promotor Pariwisata Sumba dari Wakil Presiden RI (2011),
Pelestari Budaya dari Corporate Social Sustainable, School of La Tofi , Jakarta (2011), Penghargaan kategori Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (2014) dan terakhir penghargaan dari Pemerintah Provinsi NTT sebagai pelaku pariwisata pada HUT NTT, 20 Desember 2016 lalu.
Saat ditemui di Rumah Budaya, pria kelahiran Gallu Wawi, Kodi Bangedo, 29 Agustus 1962 menjelaskan, setiap tamu yang berkunjung ke Rumah Budaya dan museumnya, harus menginjak batu berhuruf C. C itu dari kata latin cor-cordis. Corazon (spanyol) artinya HATI. Hati itu menjadi medan perjumpaan Allah dan manusia. Di dalam hati ada CINTA dan pengampunan, ada kebaikan dan toleransi. C Menjadi slogan Rumah Budaya Sumba, Datang dengan Cinta, Pulang Membawa Cinta dan akan Datang lagi dengan Cinta.
Siapa yang berdiri di atas huruf C dengan niat dan rencana baik serta mimpi -mimpi indah untuk sebuah masa depan, akan terkabul. Mau buktikan? Mari ke Sumba dan berdiri di atas huruf C milik Rumah Budaya Sumba.
Lanjut Pater Robert, sekarang menjadi hal yang luar biasa bahwa orang datang ke Sumba tidak lengkap jika tak mengunjungi Rumah Budaya Sumba. Rumah Budaya Sumba menjadi miniatur Sumba keseluruhan, karena ada museumnya yang menyimpan ratusan artifak peradaban orang Sumba yang berusia ratusan tahun.
Melalui rumah budaya yang dibangun pada 2011 ini, Pater Robert memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian budaya Sumba. Paling tidak sudah ada 34 rumah adat Sumba yang berada di wilayah Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, berhasil dilestarikan.
Selain melestarikan rumah adat, Pater Robert juga menjadi jembatan para donatur menyalurkan santunan bagi beberapa sanggar tari tradisional di Sumba.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-robert-ramonecssr_20170228_105324.jpg)