Gerson Poyk Ikut Berdiskusi Melahirkan Pos Kupang

HUT kemerdekaan RI tahun 1974 itu menjadi spesifik karena perayaannya akan dihadiri tamu istimewa dari Timor Portugis

Gerson Poyk Ikut Berdiskusi Melahirkan Pos Kupang
ISTIMEWA
Gerson Poyk 

POS KUPANG.COM - SIANG hari, 15 Agustus 1974, aparatur pemerintah daerah (pemda) dan warga Kota Atambua Kabupaten Belu begitu sibuk. Di tengah suhu udara yang terbilang cukup panas, orang lalu lalang membawa bendera dan umbul- umbul untuk memperindah Kota Atambua dalam rangka peringatan hari Proklamasi 17 Agustus.

HUT kemerdekaan RI tahun 1974 itu menjadi spesifik karena perayaannya akan dihadiri tamu istimewa dari Timor Portugis (kini negara Timor Leste).
Dari Timor Portugis memang datang rombongan pemerintah bersama tim kesenian dan olahraga. Kehadiran mereka dalam rangka mempererat hubungan persaudaraan antarbangsa, Indonesia dan Portugis, penguasa Timor Portugis.

Siang hari itu, kebetulan perut sudah keroncongan dalam perjalanan bersepeda motor dari Halilulik menuju Atapupu, saya singgah di sebuah restoran Chinese -lupa namanya-yang berlokasi di pertigaan jalan, dekat Kantor Bupati Belu.

Saya kala itu sedang mencari bibit sapi Bali guna memenuhi pesanan Pemda Kabupaten Sika. Ketika memasuki restoran yang kebetulan lagi sepi, terlihat seorang pria berambut agak ikal, bercelana jeans biru sedang akrab ngobrol dengan pemilik restoran, kebetulan seorang wanita cantik. Di atas meja, tergeletak sebuah kamera foto merk Olympus lengkap dengan telelens. Tentu saja terbilang mahal untuk ukuran saat itu.

Melihat kedatangan saya, sang pria yang semula hanya senyum-senyum, datang menemani saya sambil memperkenalkan diri. "Saya Gerson. Gerson Poyk." Dan, katanya kepada saya.. "kamu pasti orang Flores" dengan sangat yakin. Dia lalu berkisah tentang masa kecil saat Sekolah Rakyat di Ruteng, Manggarai, sama sekolah dengan Ben Mboi (Gubernur NTT 1978-1988).

Kalau main sepakbola, posisi Ben Mboi kanan luar. Tapi Om Gerson tak cerita dia pada posisi mana. Dia juga cerita tentang mata air Lawir, di pinggiran Kota Ruteng yang di kemudian hari jadi tempatnya mencari inspirasi menulis berbagai novel.
Cara menyapanya yang hangat segera mengakrabkan kami dan memulai ngobrol.

Saya menyapanya dengan Om Gerson karena jelas usianya jauh di atas saya. Dan, ketika saya meminta daftar menu makan siang sambil menawarkan untuk makan bersama, Om Gerson bilang. "Dari tadi saya memang menunggu rasa lapar. Pesan apa saja". Maka kami berdua melalap masing-masing dua porsi mie goreng babi dan Om Gerson meminta traktir minuman alkohol merk "Laurentina". Aneh, orang ini menunggu lapar?

Dari ngobrol sana sini hampir tiga jam, saya akhirnya tahu bahwa Om Gerson ini seorang jurnalis dan penulis yang ingin masuk ke wilayah Timor dengan sponsor Harian Kompas.

Entah mengapa, Om Gerzon sebenarnya masih wartawan Harian Sinar Harapan, bahkan membidani kelahiran surat kabar milik Partai Kristen Indonesia (Parkindo) tahun 1973, perjalanannya ke Timor dibiayai Harian Kompas. Saya tak bertanya lebih jauh. Tetapi saya akhirnya tahu, Om Gerson sedang kesukitan menemukan cara untuk memasuki wilayah Timor Portugis.

Ketika sedang asyik ngobrol dataang seorang pejabat Pemda Belu bergabung dengan kami sambil bercerita bahwa sore itu akan ada rombongan tamu dari Timor Portugis ke Atambua, Om Gerson Poyk pun mengajak saya bersamanya menemui tamu, siapa pun dia.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved