Puluhan Rumah di Maumere Terendam Banjir, Wamayani Hanya Pakaian di Badan

Tatkala hujan lebat mengguyur wilayah utara Kota Maumere, Sabtu (7/1/2017) siang, Wamayani sedang menjajakan pentolan bakso di sekitar rumahnya di Kam

Puluhan Rumah di Maumere Terendam Banjir, Wamayani Hanya Pakaian di Badan
POS KUPANG/ADIANA AHMAD
Ilustrasi 

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Tatkala hujan lebat mengguyur wilayah utara Kota Maumere, Sabtu (7/1/2017) siang, Wamayani sedang menjajakan pentolan bakso di sekitar rumahnya di Kampung Bebeng, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Suaminya Nurdin juga sedang kerja di luar rumah.

Tak disangka rumah sederhana beratap seng milik keluarga Wamayani di bantaran Kali Wolomarang diseret banjir sekitar 20-an meter.

Wamayani yang diberitahu warga sekitar segera merapikan dagangan dan bergegas kembali ke rumah. Namun, ia tak lagi mendapati rumahya di posisi semula, telah bergeser sekitar 20-an meter dari lokasinya ke arah timur masuk muara pantai utara laut Flores.

Rumah itu hanya tampak atapnya, separuh dinding sudah terendam air.
Seluruh isi rumah rumah milik pasangan suami istri dan satu orang anak berusia balita, terbawa banjir sampai ke muara kali. Tak satupun perabot rumah tangga dan pakaian yang sempat diselamatkan.

"Kami hanya punya pakaian di badan ini saja. Uang Rp 1 juta lebih dari hasil jual bakso, lemari pakaian, perkakas dapur dan kulkas sudah dibawa banjir," ungkap Wamayani di rumah sanak familinya, Sabtu (7/1/2017) sore.

Untuk berteduh sementara waktu, Wamayani sekeluarga akan menempati kembali rumah sanak keluarga yang berada di sekitarnya. "Kami akan tinggal di rumah orangtua dulu. Saat ini kami tak punya apa-apa lagi," keluhnya.

Suaminya Nurdin hanya terpekur, tak sanggup berkata sepatah katapun. Wajahnya murung. Nasih surupa juga dialami Stefanus Fabianus, warga Waidoko, Kelurahan Wolomarang, Maumere. Dia melukiskan banjir di awal tahun 2017 ini sebagai yang terbesar selama dia berdomisi di wilayah itu. Banjir luapan dari kali-kali kecil di kawasan atas Wolonmaget menerjang puluhan unit rumah di sisi timur ruas jalan trans utara Flores.

Rumah semi permanen yang dibangun Stefanus dengan susah payah direndam air yang meluncur deras dalam tempo setengah jam. Dibanding Nurdin, nasib Stefanus masih lebih baik. Ketika air mulai menggenangi rumahnya makin tinggi, ia bersama istri dan anak-anaknya bergerak cepat mengungsikan seluruh perabot rumah tangga ke rumah tetangga yang dibangun dengan pondasi lebih tinggi.

Namun, dalam tiga sampai empat hari mendatang, Stefanus belum bisa kembali menempati rumahnya. Air menggenangi rumahnya hingga setinggi 80 cm juga meninggalkan segala macam sampah di dalam rumah. Butuh waktu untuk membersihkan itu semua.

Selain rumah milik Stefanus,puluhan rumah tetangga Stefanus juga mengalami nasib serupa. Rumah utama, dapur, kandang babi, wc dan kamar mandi hingga kuburan keluarga di halaman rumah tergenang banjir. Kawasan ini menyerupai sungai yang baru selebar 40-an meter dan panjanga 200-meter sampai bersatu dengan laut pantai utara Flores.

Stefanus mengaku sangat sedih dengan musibah ini. Untuk mendirikan rumah, Stefanus yang sehari-harinya sebagai petugas keamanan di salah satu sekolah dasar di Maumere menabung bertahun-tahun.

Menyaksikan rumahnya Stefanus tampak emosi. Tanpa mengenakan baju,
ia bersama-sama puluhan pria warga setempat meluapkan emosi mereka
turun ke ruas jalan Tranas Flores. "Ami miskin te sawe.Orin lau tahi ba'a (bahasa Sikka yang artinya, kami orang miskin habis sudah, rumah ke laut)," teriak mereka di ruas jalan Trans Utara Flores sekitar 3 Km dari Kota Maumere.

Pantauan Pos Kupang sampai pukul 19.00 Wita kemarin, dampak banjir masih terjadi meskipun ketinggian air tinggal setinggi sekitar 60 cm. Belum diperoleh konfirmasi dari BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Sikka tentang jumlah rumah warga terendam banjir tersebut. (ius)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved