Jalani Tahun 2017 dengan Bahagia

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina dan Jepang misalnya, secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia

Jalani Tahun 2017 dengan Bahagia
Shutterstock
Ilustrasi 

Oleh  Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington

POS KUPANG.COM - Sekilas judul tulisan ini tampak tidak kontekstual. Sebab berbagai prediksi yang ada justru menunjukkan bahwa kehidupan di tahun 2017 cenderung semakin berat. Tinjauan dari perspektif keamanan dan ketertiban, sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan hidup, memperlihatkan bahwa kehidupan yang semakin berat sepertinya tak terhindarkan.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina dan Jepang misalnya, secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena kedua negara ini adalah pengimpor terbesar komoditi Indonesia. Dengan demikian jumlah angka pengangguran akan cenderung meningkat dan mungkin gaji atau tunjangan tertentu yang harus diterima karyawan/pegawai swasta/negeri akan dikurangi atau ditiadakan. Lalu mengapa kita perlu menjalani kelamnya tahun 2017 dengan bahagia?

Miliki kebahagiaan
Agar kita dapat menjalani tahun 2017 dengan bahagia, maka kita perlu memiliki kebahagiaan. Untuk itu kita perlu mengetahui apa itu kebahagiaan dan bagaimana agar kita dapat memiliki kebahagiaan. Menurut Oxford Advance Learners Dictionary (1995), happy/happiness is a feeling or expressing pleasure, contentment; feeling satisfied that something is good, right; full of joy.

Hal senada disampaikan oleh Prof Dun Russel (2012) bahwa happiness is a feeling of satisfaction, a sense of getting what you want or having your desires satisfied or the enjoyment that comes from certain kinds of activities or experiences and so forth. Kebahagiaan sejatinya adalah kondisi kejiwaan/mental/hati seseorang yang berlimpah-limpah dengan kebaikan, kepuasan dan sukacita karena melihat dan memahami kehidupan ini secara luas dan mendalam.

Karenanya, ia tidak secara picik melihat bahwa kegembiraan, rasa optimis, dan antusiasme dalam menjalani hidup menjadi menurun atau meredup di kala pendapatan (baca: uang), jabatan, dan atau harta bendanya berkurang. Demikian pula ia tidak bergembira secara berlebihan dan menyombongkan diri tatkala hal-hal materilistis di atas sedang dicurahkan baginya secara berlimpah-limpah. Ia tetap mengambil posisi sebagai pribadi yang terus berbagi dengan sesama apapun kondisi kehidupan yang sedang melingkupinya.

Penjelasan di atas intinya menegaskan bahwa kebahagiaan dapat dicapai bila tujuan hidup kita tercapai. Akan tetapi tujuan hidup dimaksud tidak semata-mata hanya mengarah pada pemenuhan tujuan hidup individu tetapi harus melampaui itu. Yakni tujuan hidup yang akan berakhir pada saling menghormati, menghargai, dan berbagi dengan sesama.

Dengan demikian dapat dikatakan pencapaian kebahagiaan kita akan menghasilkan suatu kehidupan individu dan masyarakat yang semakin memperkecil/meniadakan desparitas antara si kaya dan si miskin dan atau yang berkelimpahan dan yang berkekurangan. Mungkin kita sependapat bahwa, apa pun keberadaan kita sejatinya setiap kita memiliki potensi besar untuk dapat saling menghargai dan berbagi, yang terpenting adalah adanya niat baik dalam hati kita.

Karena itu menurut Joel Oesteen (2015), kita menentukan sendiri apakah kita akan bahagia atau sebaliknya. Kebahagiaan adalah suatu pilihan. Lingkungan/keadaan tidak dapat mendiktenya, sebab kebahagiaan berada di dalam hati/niat yang bersih. Dengan kata lain, jika kita memiliki kekayaan materil yang berlimpah, tetapi tidak mempunyai hati yang bersih, maka kebahagiaan tidak pernah ada di dalam hidup kita. Oleh karena itu, adalah sangat tepat ketika pemazmur mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati kita; hati menentukan kebahagiaan dan kualitas hidup kita.

Mulai dengan memaafkan
Make Robbinson (2009) menegaskan agar kita dapat memaksimalkan keaslian dan keunikan pribadi kita, maka kita harus memulainya dengan memaafkan diri kita dan sesama kita. Memaafkan diri artinya kita mau menerima kekurangan dan keterbatasan diri kita sambil mengapresiasi potensi dan bakat yang diberikan Sang Pencipta bagi kita.

Memaafkan sesama hadir dalam bentuk mengampuni dan melupakan kesalahan dan kekhilafan yang dibuat siapa saja kepada kita. Sebab sejatinya pemberi maaf adalah lebih kuat (aspek mental/kejiwaan) dari penerima maaf.

Hasil penelitian yang dilakukan para peneliti pada Mayo Clinic yang sangat terkenal ini, mendapati bahwa ada begitu banyak keuntungan yang diperoleh dari memaafkan. Keuntungan dimaksud adalah, "tekanan darah yang normal, mengurangi stress, rasa bermusuhan yang rendah, terampil dalam mengelola kemarahan, denyut jantung normal, berisiko rendah terhadap penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, gejala-gejala depresi lebih sedikit, gejala-gejala kegelisahan lebih sedikit, pengurangan rasa sakit kronis, lebih bersahabat, persahabatan yang lebih sehat, ketenangan spiritual yang hebat/mantap, memperbaiki ketenangan kejiwaan."

Berbagai keuntungan dari memaafkan di atas, hemat penulis, akan semakin mendorong kita untuk saling memaafkan satu dengan yang lainnya. Dengan berbagai keuntungan yang kita peroleh melalui memaafkan, akan menjadi suatu daya dorong yang sangat kuat agar kita mencapai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan yang tidak berhenti pada diri kita saja, tetapi kebahagiaan yang memecahkan masalah individu dan masyarakat, karena kita menjadi lebih saling memahami, menghargai, dan berbagi dalam segala hal.

Dengan demikian, kita harus mencapai kebahagiaan, sebab dalam kebahagiaan itulah kita sedang menciptakan kualitas hidup terbaik, yakni suatu kehidupan yang harmonis antara manusia dan makhluk hidup lainnya serta lingkungan hidup di mana kita berada. Kelihatannya kita harus memilih untuk berbahagia, karena kita semakin berguna. Jangan ragu, bimbang, dan khwawatir dalam memasuki dan menjalani kehidupan di tahun 2017, lakonilah dengan bahagia. Selamat Tahun Baru 2017.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved