NTT Termiskin ke 3 Nasional

Sekda: NTT Miskin Tapi Tidak Ada Pengemis

Tidak ada orang yang berdomisili di bawah kolong jembatan, tidak ada orang NTT yang setiap hari hanya minta-minta

Sekda: NTT Miskin Tapi Tidak Ada Pengemis
pos kupang
Frans Salem 

POS KUPANG.COM, KUPANG --Sekretaris Daerah (Sekda ) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Salem, SH, M.Si tidak menampik jutaan jiwa rakyat NTT masuk kategori miskin. Walau demikian, tidak ada rakyat NTT yang setiap hari kerjanya meminta-minta atau pengemis.

"Tidak ada orang yang berdomisili di bawah kolong jembatan, tidak ada orang NTT yang setiap hari hanya minta-minta dan dalam jumlah banyak," kata Frans Salem kepada Pos Kupang di Kantor Gubernur NTT, Rabu (4/1/2017).

Frans Salem mengatakan, program pemerintah daerah ini untuk mengentaskan kemiskinan sangat baik. Namun, program itu tidak terlaksana sesuai harapan karena lemahnya sinergisitas birokrasi.

Dia mencontohkan program peningkatan kesejahteraan rakyat dari pemerintah pusat dan provinsi tidak didukung aparatur pemerintah di level kabupaten dan kota sehingga menuai kegagalan.

"Karena itu saya katakan bahwa butuh sinergisitas program, sehingga kalau ada program pemerintah nasional ke provinsi dan dilanjutkan ke kabupaten dan kota sampai ke desa, harus didukung. Jangan sampai kabupaten dan kota menganggap itu program provinsi," kata Salem lagi.

Dia mengatakan, data kemiskinan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) itu hendaknya membuka mata aparatur pemerintah di semua level untuk saling mendukung dalam melaksanakan program pro rakyat.

Salem mengakui, pemerintah provinsi NTT tidak menutup mata terhadap kondisi saat ini tetapi pemerintah optimistis kehidupan masyarakat akan lebih baik lagi. "Soal peringkat kemiskinan tentu ada kriteria dan banyak faktor yang mempengaruhi. Dari kriteria rumah tinggal misalnya, kita setiap tahun ada anggaran bangun rumah. Dalam setahun bisa lima sampai sepuluh rumah," katanya.

Frans Salem menyebut program Desa Mandiri Anggur Merah.(Demam) dengan sokongan dana Rp 250 juta per desa sesungguhnya sangat membantu masyarakat Flobamora meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Program ini sangat membantu masyarakat. Nanti ada lagi dana desa dan program lain yang sampai ke desa .Semua ini jika dikelola dengan baik dan bersinergis maka saya optimis rakyat NTT akan lebih maju," ujarnya.

"Saya optimis masyarakat NTT akan lebih sejahtera karena berbagai potensi daerah terus dikembangkan. Saya contohkan sektor pariwisata yang punya prospek cerah. Sektor ini punya multi efek luar biasa," tambahnya.

Seperti diwartakan kemarin, dalam dua tahun terakhir makin banyak rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang miskin. Pada tahun 2015 dan 2016 NTT berada pada peringkat ketiga provinsi termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. Sebelumnya pada tahun 2013 dan 2014, NTT berada di urutan keempat.

Ketika menggelar jumpa pers di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) NTT di Kupang, Selasa (3/1/2017), Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia menyebutkan, hingga September 2016 NTT masuk peringkat ketiga untuk jumlah penduduk miskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. Jumlah penduduk miskin di NTT mencapai 22,01 persen atau 1.150.080 orang dari sekitar 5, 2 juta penduduk provinsi ini.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk miskin di NTT pada September 2016 meningkat 160 orang dibanding jumlah penduduk miskin pada Maret 2016 yang berjumlah 1.149.920 orang (22,19 persen). Berdasarkan daerah tempat tinggal, lanjutnya, selama periode Maret hingga September 2016, persentase penduduk miskin di daerah pedesaan menurun sebanyak 300 orang (dari 1.037.900 orang menjadi 1.037.600 orang) dan untuk penduduk perkotaan mengalami kenaikan sebanyak 460 orang, dari 112.020 orang menjadi 112.480 orang. (yel)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved