Grup Salim Naik, MNC Paling Lesu

Sejak awal tahun, saham-saham grup ini mencatat rata-rata kenaikan harga tinggi dengan fluktuasi yang wajar.

Grup Salim Naik, MNC Paling Lesu
istimewa
MNC Group 

POS KUPANG.COM, JAKARTA - Saham-saham emiten Grup Salim mencatatkan pergerakan harga paling positif sepanjang tahun ini, dibanding saham emiten konglomerasi lain. Sejak awal tahun, saham-saham grup ini mencatat rata-rata kenaikan harga tinggi dengan fluktuasi yang wajar.

Setidaknya ada empat emiten Grup Salim yang sahamnya paling diminati investor, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Keempatnya mencatat kenaikan rata-rata 41%.

INDF mencatat kenaikan tertinggi, sebesar 49% year to date (ytd). SIMP ada di posisi kedua dengan kenaikan 48%, disusul saham LSIP dan ICBP, yang masing-masing mencatat kenaikan 39% dan 30%.

Torehan ini tak lepas dari sektor grup yang cenderung defensif. "Sepinya aksi korporasi dari Grup Salim sepanjang tahun ini juga turut mempengaruhi," kata Reza Priyambada, analis Binaartha Sekuritas kepada KONTAN, Kamis (29/12).

Investor menilai, sepinya aksi korporasi menunjukkan bahwa grup ini sedang fokus untuk mempertahankan penetrasi pasar. Artinya, prospek fundamental Grup Salim ke depannya masih tetap solid, seiring pangsa pasar yang tetap terjaga. Analis menilai saham Grup Salim masih oke dikoleksi tahun depan.

Berbanding terbalik dengan Grup Salim, harga saham Grup MNC justru mencatat kinerja merosot. Harga saham Grup MNC tahun ini malah turun rata-rata 15%. Penurunan terbesar dicatatkan  PT Global Mediacom Tbk (BMTR), turun sebesar 44%.

Lalu harga saham PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) turun 19%. Hanya saham PT MNC Land Tbk (KPIG) yang naik 6%. Saham PT MNC Investama Tbk (BHIT) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) masing-masing turun sebesar 17% dan 5%.

Menurut Reza, kondisi media sepanjang tahun ini sama dengan tahun lalu. Sektor konsumsi yang biasanya menggelontorkan belanja iklan besar belum sepenuhnya pulih. Padahal belanja iklan merupakan sumber pendapatan utama sektor media.

Analis Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menjelaskan, jumlah penonton MNCN November lalu tercatat 35%, turun 150 basis poin dibanding bulan sebelumnya. "Meskipun penonton turun, MNCN masih tetap pada posisi teratas pada prime time," ungkap Adrian dalam riset.

Reza bilang, tahun depan optimisme perbaikan daya beli kembali berhembus. Saat daya beli membaik, sektor konsumsi akan ikut terangkat. "Jadi sektor konsumsi akan kembali royal mengeluarkan dana untuk belanja iklannya," imbuh dia.

Saham Lippo Group juga mencatat kinerja negatif, turun sekitar 10% sejak awal tahun. Ini lantaran negatifnya sektor properti.

Harga saham LPKR turun 28% dan saham LPCK turun 27%. Seperti diketahui, sektor properti terkena sentimen negatif lambatnya perolehan marketing sales.

Anomali terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Sejak awal tahun, saham ini betah di level gocap. Tapi Agustus lalu, saham Grup Bakrie ini melesat dari level gocap ke Rp 68 per saham. Hingga saat ini, harga saham BUMI mencatat kenaikan lebih dari 300% ke level Rp 276 per saham.

Mengikuti BUMI, saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) naik 29% ke level Rp 66 per saham dari sebelumnya berada di zona saham gocap. Analis menilai, harga dua saham ini naik karena upaya restrukturisasi utang kedua emiten? (kontan)

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved