Setya Novanto Bilang Jangan Pilih Pemimpin yang Suka Pencitraan

Tahun 2017 sebentar lagi akan datang. Di tahun mendatang akan ada perhelatan politik di seluruh daerah Indonesia, pilkada serentak.

Setya Novanto Bilang Jangan Pilih Pemimpin yang Suka Pencitraan
Lutfy Mairizal Putra
Ketua Umum Golkar Setya Novanto di kediamannya, Jakarta, Senin (31/10/2016). 

POS KUPANG.COM, JAKARTA - Tahun 2017 sebentar lagi akan datang. Di tahun mendatang akan ada perhelatan politik di seluruh daerah Indonesia, pilkada serentak.

Ada 101 daerah yang akan mengalami suksesi kepemimpinan. Rakyat pun harus dipahamkan agar dapat memilih pemimpin yang visioner.

"Pemimpin yang dapat membawa perubahan untuk kemajuan daerahnya. Karena itu rakyat harus menentukan pemimpinnya secara demokratis bukan karena politik uang atau pencitraan yang bersifat semu," ujar Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto dalam pernyataannya, Rabu(28/12/2016).

Partai politik kata Novanto juga diminta tidak hanya mengejar kekuasaan semata.

Mereka lanjut Novanto harus berperan sebagai wadah partisipasi politik warga negara. Partai politik juga perlu memberikan perhatikan pada pendidikan politik masyarakat.

"Partai politik tidak boleh hanya mengejar kekuasaan semata, tapi lupa untuk mendidik masyarakat supaya lebih dewasa dalam berpolitik. Lebih dari itu partai politik harus hadir ditengah masyarakat untuk memberi solusi," ujarnya.

Novanto lebih jauh mengatakan fundamental demokrasi Indonesia juga tidak akan tumbuh kuat tanpa penegakan hukum dan pemahaman terhadap filosofi kehidupan berbangsa untuk saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan antar komponen bangsa.

Nilai-nilai tersebut menjadi kunci dalam menjaga semangat keindonesian yang plural.

"Kedewasaan berpolitik juga mesti menjadi penuntun. Kita tidak boleh terjebak dalam hiruk pikuk politik sosial media yang terkadang penuh dengan ujaran kebencian dan berbagai berita hoax. Perbedaan dan sikap politik tak boleh membelah anak bangsa pada perpecahan, perbedaan harus menjadi kekuatan dalam memantapkan kebinnekaan kemajemukan," katanya.

Untuk itu,lanjunya transisi demokrasi tidak boleh berhenti pada hal-hal yang bersifat prosuderal, tetapi harus membawa perubahan nilai, pola pikir, dan perilaku.

Halaman
12
Editor: Ferry Jahang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved