Anda Perlu Baca, Perjuangan Seorang Ibu Urus 4 Anaknya yang Alami Lumpuh Layu

Empat dari lima bersudara warga Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, Bima, sudah puluhan tahun menderita lumpuh layu sejak kecil.

Anda Perlu Baca, Perjuangan Seorang Ibu Urus 4 Anaknya yang Alami Lumpuh Layu
KOMPAS.com/Syarifudin
Satu keluarga asal Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, ini menderita lumpuh layu sejak kecil akibat polio. Sudah puluhan tahun mereka terbaring diatas kasur di rumahnya karena tak bisa berjalan dan beraktivitas seperti kebanyakan orang normal lainya. 

POS KUPANG.COM, BIMA -- Empat dari lima bersudara warga Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, Bima, sudah puluhan tahun menderita lumpuh layu sejak kecil.

Nasib buah hati pasangan Kalisom dan Idris ini memang tak seberuntung anak dari keluarga lainnya. Dari lima anak mereka, hanya satu yang tumbuh dewasa dengan kondisi fisik sehat dan normal. Sementara empat anak lainnya mengalami lumpuh layu.

Keempat anak itu yakni Bahrudin (45), Sahrudin (43), Jasman (41) dan Sriyati (35). Mereka menderita lumpuh layu akibat polio. Mereka hanya mengahabiskan masa hidup terbaring di atas kasur di rumahnya hingga puluhan tahun.

Namun, di usia yang kini tak lagi muda, keempatnya tak pernah putus asa dan kehilangan semangat hidup.

Sang ibu, Kalisom bercerita bahwa penyakit yang diderita anaknya bukan bawaan sejak lahir. Namun saat memasuki usia 9 hingga 10 tahun, gejala sakit mulai dirasakan.

Bahrudin, anak tertua, mengalami lumpuh sejak usianya sekitar 10 tahun. Bahkan, kala itu Ia sempat mengenyam pendidikan hingga kelas tiga pada sekolah dasar. Namun apalah daya, penyakit yang dideritanya membuat Bahrudin tidak bisa melanjutkan pendidikan.

Begitu pula dengan Sahrudin, Jasman dan Sriyati, juga sempat tumbuh normal seperti anak kebanyakan. Namun mereka tiba-tiba kesulitan berjalan dan beraktivitas. Padahal, sebelumnya, empat bersaudara itu sehat dan gemuk.

"Gejala awalnya hampir sama. Ketika memasuki usia rata-rata 9 sampai 10 tahun, mereka mengalami demam tinggi, kemudian tiba-tiba kesulitan menggerakkan anggota tubuh, terutama bagian kaki untuk berjalan," tutur Kalisom.

Seorang ibu yang hidup pisah dengan sang suami ini mengaku berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengobati Bahrudin dan adik-adiknya. Mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan tradisional, tetapi tidak membuahkan hasil.

"Sudah sering saya membawa mereka berobat ke Mataram. Mungkin tak terhitung lagi berapa biaya yang saya keluarkan untuk pengobatan," keluhnya.

Halaman
12
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved