Pakar sebut Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Sumbernya Dari Keluarga

Apapun persoalan yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk perdagangan orang atau human trafficking, sumber ata

Pakar sebut Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Sumbernya Dari Keluarga
POS KUPANG/MAKSI MARHO
Kegiatan Workshop Strategi Three End's yang digelar Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT di Hotel Aston Kupang, Selasa (29/11/2016) siang. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Maksi Marho

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Apapun persoalan yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk perdagangan orang atau human trafficking, sumber atau akar persoalan sesungguhnya berasal dari keluarga.

Perbaikan hidup berkeluarga menjadi hal penting jika ingin menekan berbagai persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Hal ini ditekankan Pemerhati Anak dan Gender, Ben Labre saat menjadi narasumber pada Workshop Strategi Three End's yang digelar Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT di Hotel Aston Kupang, Selasa (29/11/2016) siang. Workshop dihadiri peserta dari perbagai instansi dan lembaga serta organisasi social terkait.

Menurut Ben Labre, pola asuh anak dalam keluarga masyarakat NTT masih bersifat primitive dan otoriter serta ada pula yang terlalu memanjakan anak. Pola asuh seperti ini adalah salah dan harus diganti. Terutama ketika anak masih berada di usia emas, 0 - 6 tahun.

Narasumber lainnya, Direktris LBH APIK NTT, Ansi D Rihi Dara, SH mengatakan, sudah banyak bantuan hukum diberikan LBH terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Namun kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terus terjadi. Karena itu, pendampingan LBH harus lebih fokus dan peru mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait terutama aparat penegak hukum.

Sementara pemateri lainnya dalam kegiatan workshop tersebut yakni Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) NTT, Heny Markus dan Kepala Badan pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi NTT, Drs Bernadeta M Usboko, M.Si.

Selain itu, workshop yang dipandu moderator, Aser Rihi Tugu dari RRI Kupang ini juga menghadirkan seorang korban KDRT bernama Desy, yang berhasil bangkit dari keterpurukan dengan menyampaikan testimoninya.

Kepala Badan pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi NTT, Drs Bernadeta M Usboko, M.Si mengatakan, berbagai upaya sosialisasi dan pendampingan terus dilakukan berbagai lembaga dan instansi terkait termasuk LSM untuk menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Diharapkan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual serta perdagangan orang atau human trafficking bisa ditekan.*

Penulis: maksi_marho
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved