Antoneita dan Tomasia Menangis Saat Ceritrakan Pengalaman Di Penjara-Gleno Timor Leste

Dua warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Belu, Antoneita Goncalves dan Tomasia Elisa Tilman menangis haru saat tiba kembali di Atambua, Sabtu (

Antoneita dan Tomasia Menangis Saat Ceritrakan Pengalaman Di Penjara-Gleno Timor Leste
POS KUPANG/EDY BAU
Dua warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Belu, Antoneita Goncalves dan Tomasia Elisa Tilman saat menceritrakan kisahnya selama di Timor Leste kepada keluarga di Atambua, Sabtu (18/11/2016). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG. COM, ATAMBUA -- Dua warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Belu, Antoneita Goncalves dan Tomasia Elisa Tilman menangis haru saat tiba kembali di Atambua, Sabtu (18/11/2016).

Keduanya kembali berkumpul dengan keluarganya setelah 78 hari keduanya mendekam di penjara Gleno-Timor Leste karena masuk secara illegal ke negara baru tersebut.

Pantauan Pos Kupang, bertempat di rumah Koordinator Umum Forum Peduli Masyarakat Perbatasan (FPMP), Jeka Pereira, Sabtu (18/11/2016) sore, kedua ibu ini mengisahkan pengalamannya selama menjalani proses hukum di Timor Leste.

Baca: Beginilah Kronologis Dua Warga Belu Ditangkap Polisi Timor Leste

Baca: Bawa Tiga Ekor Babi, Dua Warga Belu Ditahan Keamanan Timor Leste

Tomasia yang lebih banyak berbicara terlihat menangis saat menceritrakan bagaimana mereka menjalani tiga malam pertama di penjara Gleno. Dia menangis haru karena harus meninggalkan keluarganya, terutama anak-anaknya yang masih kecil.

"Di dalam penjara kami tidak bisa lihat matahari di siang hari dan bulan atau bintang di malam hari. Yang kami lihat hanyalah lampu listrik yang terus menyala," katanya.

Kini keduanya telah bebas dan kembali ke pelukan keluarga. Perasaan senang dan haru campur aduk. Keduanya menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada Pemerintah Timor Leste dan KBRI di Dili-Timor Leste serta TNI-Polri yang telah berjuang hingga keduanya bisa kembali menghirup udara segar.

Satu hal yang menjadi pelajaran berharga bagi keduanya dan keluarganya bahwa untuk melintas atau masuk ke Timor Leste harus secara legal.

"Intinya, kalau ada urusan apapun di Timor Leste, harus pakai paspor. Supaya tidak mengalami hal yang sama," pesan Tomasia.*

Penulis: Fredrikus Royanto Bau
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved