Sesuatu dari Dusun Dilumil-Lamaksenulu

Tidak banyak warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tahu di mana letak Dusun Dilumil, Desa Lamaksenulu. Tidak banyak pula yang tahu hal menarik apa

Sesuatu dari Dusun Dilumil-Lamaksenulu
(ANTARA FOTO/Indrayadi)
Dokumentasi seorang prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia TNI di Papua dari Batalion Infantri Mekanis 516/Caraka Yudha mendampingi seorang warga cara memasang karet ke sandal Bakiak di Wambes, Keerom, Papua, Minggu (2/10/2016).

Refleksi Sederhana Makna Kepahlawanan

Oleh: Pankratius Balun
Tinggal di Kayu Putih, Oebobo, Kupang

TIDAK banyak warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tahu di mana letak Dusun Dilumil, Desa Lamaksenulu. Tidak banyak pula pembaca setia Pos Kupang yang tahu hal menarik apa yang ada di desa kecil yang menjadi daerah terdepan ketika geografis Kabupaten Belu sebagai bagian dari NKRI diperhadapkan dengan RDTL.

Adalah Bonifasius Mau Taek dan Ernest Tao Mau, dua pemuda yang menjadi wakil dari sekian ratus ribu pemuda NTT yang bersaing dengan puluhan juta anak muda dari seantero negeri dan kemudian menjadi yang terbaik keempat dalam Pemilihan Pemuda Pelopor Berprestasi. Tidak banyak yang tahu tentang mereka, pun apa yang mereka karyakan. Akan tetapi akan menjadi sebuah permenungan menarik bagi kita semua, khususnya kaum muda Flobamora hari ini, di saat kita memperingati Hari Pahlawan.

Dengan didasari panggilan untuk mengabdi di desa tentunya dengan polesan berbagai persoalan kehidupan masyarakat perbatasan yang kompleks, kedua anak muda ini mau dan mulai belajar untuk berbuat sesuatu. Ya sesuatu, yang dari kacamata mereka sesuatu yang dilakukan mungkin memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Dengan segala keterbatasan pendanaan dan bentuk dukungan yang lain,  keduanya mulai bertindak. Boni dan Ernest, demikian sapaan keseharian mereka, mengawalinya dengan membangun komunikasi bersama anak-anak muda sebaya di desa Lamaksenulu dan sekitarnya dengan membentuk kelompok.

Dalam prosesnya aspek nasionalisme yang menjadi kata kunci dalam bertindak. Bagi Boni dan Ernest bersama kelompoknya, berbicara soal nasionalisme itu seuatu yang mudah dan langsung menyentuh kehidupan keseharian. Artinya bahwa dalam koridor nasionalisme dan cinta akan tanah air, sesungguhnya ada banyak hal yang dapat dikerjakan. Bagi mereka pertanian, pendidikan dan bela negara misalnya adalah aspek utama nasionalisme dan menjadi sesuatu yang dapat mereka berikan.  

Untuk itu, jika sekilas dilihat, tidak ada yang istimewa dari bentuk aktivitas kelompok anak muda yang kemudian menamai diri sebagai Forum Pemuda Pelopor Pembangunan Perbatasan (FP4). Akan tetapi, jika dicermati, maka penulis yakin kita dengan senang hati akan meminjam ungkapan biduan Syahrini: sesuatu buaget.

Betapa tidak, dengan usaha sendiri, kelompok anak muda pimpinan Boni dan Ernest ini mencoba melakukan gerakan revolusi berpikir, bersikap dan sekaligus berperilaku. Di saat kepercayaan masyarakat perbatasan terhadap perhatian pemerintah (ungovernability) mulai diperdebatkan dan semangat nasionalisme masyarakat dipertanyakan, muncullah ide-ide pembaharuan anak muda yang secara langsung menjawab pesimisme. Usaha menghidupkan sekolah dasar di Dusun Dilumil, patroli bersama TNI, penghijauan di DAS Malibakan dan DAS Rusan, pembudidayaan ubi Ungu dan kacang Hijau, pelatihan komputer dan IT, pembudidayaan kacang tanah dan beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan bersama TNI adalah contoh praktek cerdas kelompok FP4 yang patut diapresiasi.

Hemat penulis, bukan persoalan berapa bentuk karya yang telah dihasilkan ataupun berapa bentuk pengakuan yang telah diterima oleh kedua saudara kita ini bersama kelompok FP4. Akan tetapi bagaimana nilai keteladanan yang telah mereka berikan. Bagaimana membangun dan mempertahankan trust dalam kompleksitas persoalan masyarakat perbatasan. Bagaimana mengubah sikap dan perilaku anak muda lain untuk menerima perubahan yang disodorkan, dan bahkan bagaimana menggerakkan anak-anak muda untuk terlibat secara total, itulah sesuatu yang sejatinya harus pula diberikan apresiasi.

Tidak mudah mencari pahlawan dalam kondisi kekinian bangsa dan daerah ini. Nilai luhur kejuangan yang mulai tercemar dengan muatan nilai tertentu, tentunya mengharuskan pengakuan bersama bahwa fenomena keluhuran nilai pengorbanan untuk nusa, tanah dan air dalam sebuah event perlombaan harus didiskusikan kembali jika hadiah menjadi pelecut utama. Berbeda dengan apa yang telah diperbuat oleh anak-anak muda dari Desa Lamaksenulu. Kendatipun belum nampak jelas campur tangan pemerintah daerah dalam pergerakan kelompok, sepak terjang Boni dan Ernest bersama FP4 ternyata mendapat pantauan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Kedua anak muda ini akhirnya terpilih mewakili seluruh anak muda di bumi Flobamora menjadi Peserta Seleksi Pemuda Pelopor Berprestasi. Penulis yakin karya nyata yang telah mereka lakukan tidak akan berhenti di sini.

Ada ataupun tidak campur tangan pemerintah daerah, yang telah mereka lakukan selama empat tahun ini akan tetap berlanjut. Karena sebagaimana pengakuan keduanya, bukan mendapatkan perhatian pemerintah dan atau stakeholder yang menjadi tujuan utama, tetapi kehidupan warga masyarakat yang berubah-lah yang tetap dikedepankan dengan mengoptimalkan semua potensi lokal yang dimiliki.

Benar sungguh kata Sang Proklamator, pemuda adalah tulang punggung bangsa dan tanah air -masa depan dan kejayaan Indonesia terletak di tangan pemuda. Dengan jiwa yang terevolusi, cukup sepuluh pemuda yang dibutuhkan negara untuk mengguncang dunia. Bagi Ir. Soekarno dibutuhkan suatu gerakan agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Walaupun tidak secara tegas mengarahkan seruan revolusi mental ini terkhusus untuk kaum muda, tetapi setidaknya pemudalah yang diharapkan beliau untuk bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup berbangsa dan bertanah air.

Mari kita menjadi Bonifasius dan Ernest dalam bentuk lain. Kejayaan bangsa yang telah direbut dan dipertahankan para pendahulu dapat kita lanjutkan dengan melakukan hal-hal kecil namun berdampak besar pada diri sendiri dan masyarakat yang ada di sekitar kita. Semoga. Selamat Hari Pahlawan.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved