Herman Selamatkan TKI asal Kupang saat Kapal TKI Ilegal Tenggelam di Perairan Batam

Musibah tenggelamnya kapal pembawa 101 TKI ilegal dan keluarganya, di perairan Batam, Kepulauan Riau (Kepri), membawa kesedihan pada Mala Herman (32).

Herman Selamatkan TKI asal Kupang saat Kapal TKI Ilegal Tenggelam di Perairan Batam
Net
Ilustrasi

POS KUPANG.COM, BATAM -- Musibah tenggelamnya kapal pembawa 101 TKI ilegal dan keluarganya, di perairan Batam, Kepulauan Riau (Kepri), membawa kesedihan pada Mala Herman (32).

Korban selamat itu masih tampak syok karena teman-teman seperjalanannya banyak yang tewas tenggelam dan hilang ditelan ganasnya perairan di Selat Malaka itu, Rabu (2/11/2016) pagi.

Herman sempat menyelamatkan seorang perempuan TKI asal Kota Kupang, NTT. "Sampai tepi, saya bilang selamat kita Dik. Selamat kita. Allahu Akbar. Saya teriak berkali-kali," katanya. Menurut Herman, perempuan itu satu kamp dengannya di Malaysia.

"Kami memang satu kamp, dia itu korban trafficking," ucapnya.
Kapal tersebut menabrak karang, dihantam gelombang, dan akhirnya terbalik di Perairan Nongsa, Batam, sekitar pukul 05.15 WIB. Data sementara menyebutkan 39 penumpang selamat, 18 ditemukan tewas, serta 44 orang lainnya masih hilang.

Diungkapkan, para penumpang kapal itu sudah seperti saudara. "Saya memang sendiri, tapi mereka yang berada satu kapal dengan saya itu sudah seperti keluarga," ujar Herman sedih.

Ia menceritakan perjalanan panjang untuk dapat menyeberang ke Batam. Diungkapkan, sejak Selasa (1/11/2016) malam para TKI itu bertemu di ladang sawit sebelum akhirnya berangkat menggunakan kapal ke Batam.

"Pukul 18.30 waktu setempat, Selasa, kami sudah bertolak dari rumah tekong. Saya sampai di sebuah perkebunan sawit sekira pukul 20.00. Kami diturunkan secara cepat, macam binatang, terus dikasih kepada agen. Kami berjalan ke tepi pantai kemudian diberangkatkan," katanya.

Setiap berjalan satu kilometer, mereka beristirahat di tengah hutan.

"Pukul 03.00 dini hari kami sampai di tempat sandar kapal itu. Saya nggak tahu itu kapal apa, tapi mesinnya ada empat. Selama berjalan kami nggak boleh bersuara, nggak boleh merokok, nggak boleh nyalakan handphone. Ngobrol pun kami berbisik-bisik," katanya. Selama naik kapal, ombak cukup tinggi. Menurutnya para penumpang kapal bahkan kehujanan. "Air laut masuk ke kapal," ujarnya.

Ia menambahkan, kapal tersebut sempat menabrak karang sebelum akhirnya diterpa ombak dan terbalik. "Badai kuat itu sempat membuat kapal nyangkut di karang. Sebagian penumpang laki-laki ikut membantu agar kapal terbebas dari karang. Sudah hampir di tepi, tiba-tiba datang lagi ombak, langsung terbalik kapal kami. Kami sudah dekat sekali ke tepian," kata Mala Herman.

Begitu kapal terbalik, Herman langsung menyelamatkan dirinya. Namun hati nuraninya terusik mengingat banyak penumpang wanita dan anak-anak yang masih terjebak di dalam kapal yang terbalik.

"Tiga kali saya bolak-balik ke dalam kapal mengambil anak-anak dan perempuan. Tapi sekuat apapun sudah tak sanggup, apalagi air laut sudah banyak tertelan. Yang saya bawa naik, semuanya saling berpegangan. Mereka pegang baju saya. Kemudian saya lihat mereka tenggelam juga," katanya lagi.

Herman mengingat hanya seorang wanita yang berhasil ia selamatkan ke tepi pantai. Herman mengaku kesal karena ia sempat melihat beberapa kapal nelayan yang tidak mau menyelamatkan mereka.

"Ada kapal nelayan, tapi mereka lewat saja. Saya seumur-umur baru sekali ini lewat belakang (ilegal). Itupun karena usaha buah saya lagi macet. Paspor pun sudah mati (tidak berlaku lagi)," ucapnya. Menurutnya biaya yang harus dikeluarkan yaitu 500-800 ringgit (Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta) untuk tekong, agen (yang membawa dari perkebunan kepala sawit ke tepi pantai) 50 ringgit (Rp 156.000), dan di kapal bayar Rp 450 ribu. Sedangkan Murizal (40), TKI asal Lombok , mengaku sekuat tenaga menyelamatkan diri. "Saya coba berenang untuk menyelamatkan diri. Beberapa jam saya berenang baru ada nelayan yang datang," sebutnya. (ane/koe/man/leo)

Editor: Alfred Dama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved