Andi Wijaya Dirantai dan Diasingkan di Hutan Lindung Nunukan

Sebuah rumah panggung di hutan lindung Pulau Nunukan, Kalimantan Utara, seakan tersamar oleh rimbunnya pohon perdu

Andi Wijaya Dirantai dan Diasingkan di Hutan Lindung Nunukan
KOMPAS.com/SUKOCO
Andi Wijaya, duduk dalam rumah berukuran 3 meter x 4 meter di pinggiran hutan lindung Pulau Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu (12/10/2016). Andi diduga mengalami gangguan kejiwaan sehingga diasingkan oleh keluarganya. 

POS KUPANG.COM, NUNUKAN -- Sebuah rumah panggung di hutan lindung Pulau Nunukan, Kalimantan Utara, seakan tersamar oleh rimbunnya pohon perdu yang tak pernah dipotong oleh pemiliknya.

Di rumah berukuran 3 meter x 4 meter itulah, Andi Wijaya (32) tinggal seorang diri, jauh dari tetangga. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan dan berpenerangan lentera.

Telur, kompor, wajan, serta minyak tanah terlihat disusun berjajar di bagian kiri ruangan itu. Di sebelah kanan, ada ranjang yang terbuat dari bekas jaring, tempat Andi Wijaya merebahkan diri.

Pagi itu, Andi sedang menggoreng telur balado untuk sarapan paginya. Pergerakannya terbatas karena kaki kirinya terikat rantai sepanjang hampir 2 meter pada salah satu tiang penyangga rumah.

Sudah tiga tahun lamanya Andi hidup terasing di tengah hutan itu. Ia dibelenggu dan diasingkan di sana oleh keluarganya selama 2 tahun terakhir karena dianggap mengidap kelainan jiwa.

Ketika sejumlah wartawan menemuinya, Rabu (12/10/2016), perilaku yang ditunjukkannya normal. Ia mempersilakan masuk dan beramah tamah dengan para tamunya.

Sesekali dia membetulkan letak rantai di kaki yang mengganggu pergerakannya.

"Aku tidak tahu mengapa diikat? Abangku yang ikat aku di sini?" kata Andi.

Meski dianggap mengalami gangguan kejiwaan, Andi ingat betul silsilah keluarganya. Dia menceritakan kedatangannya ke Nunukan bersama orangtua dan kakak-adiknya dari Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Andi anak ketiga dari enam bersaudara.

Saat ini keluarga Andi tinggal kurang lebih 3 kilometer dari tempat tinggal Andi.

Halaman
123
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved