Saat Ini NTT Mengalami Peralihan Musim

Selain itu dari pola tekanan pada dasarian II September dan khususnya pada 18 September 2016 terdapat tekanan rendah (low) di sebelah utara Australia.

Editor: Paul Burin
POS KUPANG/YENI RAHMAWATI TOHRI
Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Lasiana, Fera Adrianita dan Observer Forecaster, Alpianus Palute dengan alat penangkar hujan, Rabu (21/9/2016). 

POS KUPANG.COM, KUPANG - Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir, disebabkan wilayah NTT dalam masa peralihan antara musim kemarau dan musim hujan. Angin yang biasanya angin timur sekarang menjad angin barat.

Demikian disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, Apolinaris S. Geru, SP, M.Si, melalui Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Fera Adrianita, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (21/9/2016).

Fera menjelaskan, untuk angin biasanya tidak teratur. Secara umum suhu muka laut di perairan wilayah NTT pada Dasarian II September berkisar antara 27.5 -29.5oC dengan anomali berkisar antara +0.6 0C s.d +2.1 0C sehingga ada potensi penguapan yang mendukung pertumbuhan awan di wilayah NTT lebih tinggi dari klimatologisnya.

Dilihat dari monitoring indeks munson dapat diketahui bahwa pada dasarian ini Monsun Australia sedang melemah (lebih rendah dari klimatologisnya), sedangkan munson Asia menguat,
sehingga angin timuran melemah.

Selain itu dari pola tekanan pada dasarian II September dan khususnya pada 18 September 2016 terdapat tekanan rendah (low) di sebelah utara Australia.

"Hal ini menyebabkan terjadinya belokan angin yang berada di atas wilayah NTT sehingga menghambat aliran angin dari Australia, dan masa uap air terbawa dari wilayah Pasifik Barat menuju wilayah NTT mengikuti pergerakan angin siklonik. Hal ini dapat dilihat juga dari Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang menunjukkan terbentuknya pertumbuhan awan di sekitar wilayah NTT," tuturnya.

Ia mengatakan pada saat ini, MJO telah masuk di kuadran 4 dan 5 yaitu benua maritim wilayah Indonesia, sehingga menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

Hingga Dasarian II September, wilayah NTT belum memasuki musim hujan. Hujan yang terjadi pada beberapa hari terakhir ini disebabkan oleh Monsun Australia yang sedang melemah dan kondisi suhu muka laut (SST) di perairan NTT yang hangat serta pergerakan angin siklonik di atas wilayah NTT akibat adanya pusat tekanan rendah (low) di utara Australia yang menambah massa uap air dari Pasifik Barat ke wilayah NTT.

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh MJO yang berada pada fase 4 dan 5 sehingga potensi pertumbuhan awan dan peluang hujan sangat besar di wilayah NTT. (yen)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved