Studi Genetika Mengungkap, Ternyata Ada 4 Jenis Jerapah di Bumi

Pakar genetika dari Senckenberg Biodiversity and Climate Research Center, Axel Janke, melakukan analisis pada DNA mitokondria.

Studi Genetika Mengungkap, Ternyata Ada 4 Jenis Jerapah di Bumi
NOVA DIEN
Jerapah di Ngorongoro National Park, Tanzania. 

POS KUPANG.COM, KOMPAS.com - Jerapah sekian lama dianggap sebagai satu spesies. Namun, studi genetika yang dipublikasikan di jurnal Current Biology minggu lalu mengubah anggapan tersebut.

Analisis DNA mengungkap bahwa 4 grup jerapah yang selama ini dianggap variasi tak bertukar materi genetika selama ribuan tahun, menunjukkan bahwa mamalia tertinggi di bumi itu terdiri dari 4 spesies.

Terungkapnya keempat jenis jerapah itu akan membantu ilmuwan mengembangkan strategi konservasi pada masing-masing jenis.

Penelitian jerapah ini diawali oleh proyek konservasi yang dilakukan Girrafe Conservation Foundation. Lembaga itu ingin mengetahui keragaman genetik pada populasi jerapah di Namibia.

Pakar genetika dari Senckenberg Biodiversity and Climate Research Center, Axel Janke, melakukan analisis pada DNA mitokondria (bagian sel yang menghasilkan energi) dan DNA inti.

"Yang kami temukan adalah bahwa masing-masing sub-spesies secara genetika sangat berbeda dan terpisah," katanya seperti dikutip BBC, Jumat (9/9/2016).

"Terungkap bahwa jerapah di bagian utara sangat berbeda dengan jerapah retikulata. Temuan kami mengindikasikan bahwa adanya empat spesies yang berbeda," imbuhnya.

Keempat spesies jerapah itu dinamai jerapah bagian selatan (Giraffa giraffa), jerapah Masai (G tipelskirchi), jerapah retikulata (G reticulata), dan jerapah bagian utara (G camelopardalis).

Jerapah bagian utara sendiri punya sub-spesies, yaitu jerapah Nubian (G. c. camelopardalis). Keduanya secara genetika memiliki perbedaan tetapi masih bisa dikategorikan sebagai satu spesies.

Matthew Cobb, profesor zoologi dari University of Manchester mengatakan, keempat jenis jerapah itu sudah terpisah sejak 1 - 2 juta tahun lalu dan tak mengalami kawin silang.

"Temuan penting ini memungkinkan pakar konservasi menyusun target, dan mungkin, mengembangkan pendekatan baru di alam liar maupun penangkaran berdasarkan kesamaan dan perbedaan antar-grup," imbunya.

Populasi jerapah telah berkurang 40 persen dalam 15 tahun. Sebagai satu spesies, International Union for Conservation (IUCN) menggolongkan jerapah dalam kategori "Risiko Rendah".

Dengan populasi sebanyak 90.000 dan kini terpisah sebagai 4 spesies berbeda, status itu bisa saja berubah. Jerapah perlu lebih diperhatikan. (kompas.com)

Editor: Paul Burin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved