Anak Laki-laki dan Kekerasan Seksual

Menteri Pemberdayaan dan Perempuan dan Anak malahan makin mendesak DPR untuk segera mengesahkan Perppu No. 1 tahun

Anak Laki-laki dan Kekerasan Seksual
ilustrasi 

Awasan bagi Keluarga

Oleh Dr. Fransiska Widyawati, M. Hum
Ketua LPPM STKIP St. Paulus Ruteng Flores

POS KUPANG.COM - Berita terbongkarnya praktik prostitusi yang menawarkan anak laki-laki kepada pelanggan gay di Bogor Jawa Barat sungguh mengejutkan. Apalagi jumlah anak lelaki di bawah umur yang menjadi korban tidak sedikit. Isu ini sontak menghidupkan kembali diskusi mengenai hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Menteri Pemberdayaan dan Perempuan dan Anak malahan makin mendesak DPR untuk segera mengesahkan Perppu No. 1 tahun 2016 mengenai Perlindungan Anak menjadi undang-undang. Sang menteri menilai bahwa Perppu yang populer disebut Perppu Kebiri ini dapat menjadi sebuah solusi bagi persoalan kekerasan terhadap anak khususnya kekerasan seksual.

Trauma kekerasan seksual pada anak yang luar biasa memang memaksa setiap pihak berpikir mengenai cara pencegahan dan penanganan korban serta bentuk hukuman yang layak bagi pelakunya. Banyak orang menilai kebiri dinilai menjadi satu alternatif yang dapat memberi efek jera.

Terlepas dari diskusi mengenai Perppu dan hukuman bagi pelaku kekerasan seksual, tulisan ini memberi perhatian khusus anak laki-laki sebagai korban dan bagaimana implikasinya bagi pendidikan seksualitas di dalam keluarga. Kasus dimana anak laki-laki menjadi korban kekerasan seksual sebenarnya bukan hal baru. Orang yang mengidap penyakit kelainan seksual pedofilia yang kerap diberitakan di luar negeri paling dominan melakukan kekerasan seksual terhadap bocah laki-laki dibandingkan terhadap anak perempuan. Beberapa berita di tanah air juga pernah menyoroti hal serupa. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP St. Paulus Ruteng Flores dalam kerja sama dengan Wahana Visi Indonesia yang melakukan penelitian kekerasan terhadap anak di Manggarai Raya tahun lalu juga menemukan adanya kekerasan seksual terhadap bocah laki-laki dengan pelaku sesama laki-laki.

Seperti gunung es, kasus serupa sebenarnya lebih banyak daripada yang dapat dilaporkan dan diketahui publik.
Kendati berita dan laporan mengenai kekerasan seksual terhadap anak perempuan nampaknya lebih banyak dibandingkan terhadap anak lelaki, secara faktual kekerasan seksual terhadap anak laki-laki adalah nyata dan ada di tengah masyarakat kita. Realita ini kerap tenggelam, terabaikan atau dianggap tak terjadi manakala kebanyakan masyarakat berpikir bahwa yang menjadi korban kekerasan seksual otomatis berjenis kelamin perempuan.

Belum banyak masyarakat yang sadar bahwa anak laki-laki merupakan pihak yang juga rentan terhadap kekerasan seksual. Hal ini terjadi karena aneka faktor. Salah satunya dikarenakan pandangan mainstream dimana aktivitas seksual terbatas pada dua orang dengan jenis kelamin berbeda, antara laki-laki dan perempuan semata.

Di dalam relasi itu, lelaki kerap diposisikan sebagai yang dominan dan aktif sedangkan perempuan yang pasif dan menunggu. Maka, ketika ada kasus dan pelencengan, pelaku selalu diidentikkan dengan lelaki dan korbannya adalah perempuan.

Padahal tidak selalu demikian. Fakta tentang pedofilia yang paling banyak menelan korban anak lelaki atau kisah mucikari di Bogor yang memperdagangkan bocah lelaki untuk dijadikan pekerja seksual bagi para lelaki hendaknya membuat masyarakat waspada dan sadar. Kekerasan seksual terhadap anak laki-laki oleh pelaku laki-laki merupakan sebuah ancaman serius bagi masyarakat kita.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved