Sastra dan Keberadaban Manusia
Selain bebagai kegiatan lomba menulis sastra, Harian Pos Kupang melalui edisi Minggu-nya sangat konsisten hadir
Oleh Yohanes Berchmans Ebang
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unwira Kupang
Science and art have bestowed a great deal on mankind. (Leo Tolstoy)
POS KUPANG.COM - Harian Pos Kupang edisi Sabtu, 27 Agustus 2016 halaman 10 menurunkan sebuah berita tentang lomba puisi yang digelar Agupena Flotim. Diberitakan bahwa 82 puisi karya siswa-siswi SMP, SMA dan SMK telah tiba di tangan panitia untuk selanjutnya dinilai oleh tim juri. Berita tersebut merupakan salah satu dari sekian ajang lomba menulis puisi dan sastra pada umumnya yang akhir-akhir ini terus menggeliang di bumi Flobamora.
Selain bebagai kegiatan lomba menulis sastra, Harian Pos Kupang melalui edisi Minggu-nya sangat konsisten hadir sebagai media dan wadah untuk sastra tulis di NTT. Maka secara liral, Pos Kupang dapat dikatakan sebagai salah satu media yang mendengungkan eksistensi kebersastraan NTT.
Situasi di atas, hemat penulis, patut diapresiasi. Sebagai bagian dari apresiasi, tulisan yang berpijak di atas pandangan filosofis Leo Tolstoy ini dimaksud untuk menegaskan betapa pentingnya seni (baca: sastra) yang selalu berdampingan dengan ilmu pengetahuan dalam kancah hidup manusia.
Seni (sastra) merupakan bagian penting dari peradaban manusia. Sehingga baik penulis, pembaca maupun masyarakat umum sadar akan eksistensi seni (termasuk sastra).
Tentang hal ini, Leo Tolstoy dalam sebuah literaturnya, On the Significance of Science and Art, khususnya pada Bab IV dan V (The Literature Network), menegaskan eksistensi ilmu pengetahuan dan seni dalam panggung kehidupan sosial umat manusia. Bahwa ilmu pengetahuan dan seni adalah pemegang kendali peradaban dunia. Keduanya tampil sebagai 'pelayan' bagi diri sendiri serentak dan penting menjadi 'hamba' bagi manusia. Ilmu pengetahuan dan seni sangat penting bagi manusia. Bagai makanan rohani dan jasmani, seperti nafas dan udara. Laksana air yang terus mengalir, menghidupi dan merawat manusia. Merawat jiwa dan raga. Karena itu, keduanya patut untuk selalu berdampingan dengan manusia.
Penting dan perlunya ilmu pengetahuan dan seni bukan karena keputusan manusia (yang membuat keduanya menjadi penting dan perlu) atau karena keduanya selalu di sekitar manusia, tetapi karena keduanya secara ekstensial adalah perlu dan penting. Siapa pun yang menolak konsep ini, maka pada saat yang sama ia sedang mengirim manusia untuk kembali pada tempat yang liar dan buas (a savage state). Karena itu, seni sebagaimana juga ilmu pengetahuan, menurut Tolstoy, memiliki tempat serta fungsi yang strategis dalam kehidupan sosial manusia.
Menghantar manusia dari tempat dan masa yang liar menuju keribaan yang manusiawi dan bermartabat.
Satu hal yang menarik adalah bahwa fakta penyelidikan Tolstoy di atas tidak semata diretorikakan dalam rangka dan ranah filosofis-teoretis sebagai produk nalar, tetapi dalam rangka melihat, menilai dan merefleksikan hidup secara benar dan jujur. Bahwa ketika ilmu pengetahuan dan seni menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup seseorang, maka status 'kebermilikan' itu digunakan untuk melayani sesama.
Kalaupun ilmu pengetahuan kadang menghantar manusia kepada perseteruan dan kebinasaan, menurut Tolstoy, itu merupakan penyimpangan, jalan palsu dan sesat. Situasi itu terjadi kerena manusia sebagai pemegang kendali, hadir dengan definisinya masing-masing perihal ilmu pengetahuan dan seni. Manusia pada saat itu mengklaim diri sebagai manusia, tetapi mereka tidak memenuhi kewajiban sebagaimana manusia.
Tolstoy mengasumsikan keadaan itu dengan seorang imam yang menganggap dirinya sebagai pembawa wahyu, namun tidak dapat memenuhi kewajiban hidupnya sebagai seorang imam. Yang ditekankan Tolstoy di sini adalah kewajiban tidak sebatas kerja (berkarya), tetapi juga (ke)setia(an), panggilan untuk melayani.
Secara implisit tampaknya Leo Tolstoy sedang menawarkan satu hal ideal yang patut dimiliki seniman-sastrawan yakni kesetiaan. Setia. Kesetiaan dalam konteks ini (berkarya-sastra) bukan soal berapa banyak karya yang dihasilkan dan tingkat keterkenalan nama seorang seniman, melainkan setingkat, sejauh, dan sedalam mana karya yang dihasilkan mengena manusia (yang lain: publik), jiwa dan raganya.
Berkaitan dengan tingkat keberkenaan sebuah karya terhadap jiwa dan raga manusia, beberapa hal penting yang bertalian dan tidak bisa saling lepas yakni kualitas karya, tingkat cerapan rasa penikmat karya, penerimaan serta pengaruh karya secara individu maupun kolektif. Keempat hal ini tidak secara penuh obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna, tetapi yang hendak ditekankan dalam koridor ini adalah kesetiaan (keseriusan dan konsistensi) berkarya.
Maka dalam berkarya, seorang seniman tidak berpikir tentang sampai atau di titik mana ia mencapai kesuksesan, popularitas dan pengakuan. Tetapi seberapa besar kesetiaan dan tanggung jawab seorang seniman dalam berkarya sehingga semakin banyak orang dihantar kepada tempat dan situasi yang beradab.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sastra2_20160908_180957.jpg)