Abu Sayyaf Bom Kampung Halaman Duterte

Ledakan bom itu terjadi tak lama setelah pemerintah mengumumkan akan berperang menumpas kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan

Editor: Agustinus Sape

POS KUPANG. COM, MANILA - Kelompok Abu Sayyaf mengaku bertanggung jawab atas ledakan bom di kampung halaman Presiden Filipina Rodrigo Duterte, di pasar malam Kota Davao, pada Jumat (2/9/16) malam.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor media DZRH pada Sabtu (3/9/) pagi kemarini, kelompok teroris itu mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang telah menewaskan 12 orang dan 24 lainnya luka-luka.Radio DZMM juga melaporkan bahwa juru bicara Abu Sayyaf Abu Rami mengatakan bahwa kelompok mereka yang ada di balik serangan mematikan tersebut.

Ledakan bom itu terjadi tak lama setelah pemerintah mengumumkan akan berperang menumpas kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Hal ini setelah 15 tentara tewas oleh kelompok teroris saat kontak tembak sengit terjadi pekan lalu di Jolo.

Wali Kota Davao Sara Duterte-Carpio menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban yang tewas dalam ledakan Jumat malam. "Saya juga ingin meyakinkan mereka semua, serta keluarga mereka yang terluka bahwa pemerintah Kota Davao akan membantu semua kebutuhan mereka untuk rawat inap, pemakaman. Saya minta maaf atas apa yang terjadi," ujar Carpio dalam sebuah pernyataan.

Wali Kota juga meminta masyarakat dan para pejabat untuk tetap waspada. "Saya ingin mengingatkan pejabat lainnya untuk tetap dalam batas-batas tugas-tugas resmi mereka,"katanya.

Dalam aksi itu, dikabarkan 12 orang tewas dalam serangan bom di Kota Davao tersebut.
Selain korban tewas, sebanyak 60 orang menderita cedera akibat ledakan di sebuah pasar yang padat pengunjung itu. Lokasi ledakan berada di luar Hotel Marco Polo, di kawasan yang sering dikunjungi Duterte yang saat itu berada di Davao. Namun, dia tidak mengalami cedera.

Davao merupakan kota terbesar di wilayah Filipina selatan, dengan populasi sekitar dua juta jiwa. Kota tersebut berjarak sekitar 1.500 kilometer dari ibukota Manila. Davao merupakan bagian dari wilayah Mindanao, tempat para militan melancarkan aksi-aksi separatisme yang telah berlangsung puluhan tahun dan telah menewaskan lebih dari 120 ribu orang.

Duterte telah menjadi wali kota Davao selama hampir dua dekade terakhir, sebelum memenangi pemilihan presiden dan dilantik menjadi presiden pada 30 Juni lalu.

Kepolisian setempat masih menyelidiki penyebab ledakan. Sementara Juru bicara kepresidenan mengatakan para penyelidik menemukan serpihan dari bom rakitan berbahan mortir di lokasi ledakan. Beragam foto yang dilansir media setempat menunjukkan pecahan kaca dan kursi-kursi plastik berserakan di lokasi ledakan, yang saat ini ditutup untuk kepentingan penyelidikan.

Wakil Wali Kota Davao yang merupakan putra tertua presiden, Paolo Duterte, mengeluarkan pernyataan di media sosial bahwa terlalu dini untuk menentukan siapa yang mendalangi seranga itu. Dia mengatakan "aparat tengah menangani insiden ini".

Presiden Filipina Rodrigo Duterte tengah berada di Kota Daao ketika ledakan terjadi. Kepala kepolisian daerah Davao, Manuel Guerlan, mengatakan beberapa pos pemeriksaan telah ditempatkan di jalur ke luar kota. "Sebuah penyelidikan menyeluruh tengah dilaksanakan untuk menetukan penyebab ledakan. Kami menyeru kepada semua orang untuk tetap waspada," kata Guerlan.

Kewaspadaan di kawasan Filipina selatan ditingkatkan selama beberapa pekan terakhir sehubungan dengan aksi militer terhadap kelompok milisi Abu Sayyaf.

Pada Senin (29/8) bulan Agustus lalu, sedikitnya 12 serdadu Filipina tewas dalam pertempuran sengit melawan kelompok milisi. Hari itu dicatat sebagai hari paling mematikan bagi militer Filipina sejak Presiden Duterte terpilih pada Mei 2016.

Masa kepemimpinan Duterte sendiri diwarnai peningkatan pembunuhan terkait narkoba. Tercatat sebanyak 2.000 orang tewas sejak dia memimpin Filipina. Nyaris setengah dari jumlah kematian itu timbul dalam operasi kepolisian.

Batal ke Brunei
Pasca peledakan bom, Duterte langsung membatalkan kunjungan resminya ke Brunei Darussalam. Duterte yang tengah berada di Davao saat ledakan bom, pasca ledakan langsung mendatangi lokasi ledakan. Dia terus memonitor situasi di sana bersama sejumlah menterinya dan pejabat-pejabat tinggi keamanan.

Sekretaris komunikasi kepresidenan Martin Andanar seperti dilansir kantor berita AFP kemarin mengungkap, kunjungan ke Brunei semula dijadwalkan pada Minggu (4/9) hingga Senin (5/9). Namun usai serangan bom itu, lawatan tersebut dibatalkan. Lawatan ke Brunei tadinya akan menjadi kunjungan kenegaraan pertama Duterte sejak menjadi presiden. (tribun/mal/bbc/afp)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved