Yono Bayar Hingga Rp 150 Juta

Kades Bulu Kandang, Prigen, Pasuruan Wakit Mulyo mengatakan para jamaah haji dari desanya manasik haji di Filipina dikoordinir Gus Huda.

Editor: Agustinus Sape

POS KUPANG. COM, PASURUAN - Kepala Desa Bulu Kandang, Prigen, Pasuruan Wakit Mulyo mengatakan para jamaah haji yang berasal dari desanya melakukan manasik haji di Filipina dan mereka dikoordinir oleh Gus Huda. "Saya dapat keterangan dari H Joni dan warga," kata Wakit, di Pasuruan, Kamis (25/8).

H Joni merupakan jamaah yang tertahan di Filipina bersama istrinya. Wakit mengungkapkan para jamaah haji yang berangkat melalui Filipina karena kuota di negeri itu masih banyak.

"Mungkin karena banyaknya permintaan haji. Gus Huda sebetulnya orang baik. Mungkin ini hanya cobaan saja," tambah seorang pegawai kecamatan yang mendampingi Wakit.

Menurut Wakit, para jamaah sebetulnya tahu mereka akan berangkat ke Tanah Suci dari Filipina. Buktinya, mereka manasik di Filipina. "Sebelum Lebaran mereka sudah manasik. Ini memang haji plus, bukan reguler," papar Wakit.

Satu di antara jamaah calon haji asal Pasuruan yang sekarang berada di Filipinan bernama Yono Noto Sumo dan istrinya, Kasudatin Delan Karjani. Yono Noto Sumo dan istri harus membayar Rp 150 juta untuk setiap orang, sehingga total telah mengeluarkan uang Rp 300 juta.

Biaya yang tak jauh beda juga dikeluarkan oleh pasangan suami istri, Satruki dan Urifah, warga Desa Pejangkungan, Rembang, Pasuruan. Masing-masing harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 145 juta. Biaya tersebut sudah termasuk biaya pengurusan visa dan perlengkapan lainnya

Yono mendaftar ke KBIH Arafah secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, sang putra mengaku mengetahui perihal rencana ibadah tersebut hanya dua bulan sebelum keberangkatan sang ayah.

Menurut Mokh Soleh, menantu Yono, sang mertua terkesan menutup-nutupi rencana awal keberangkatan tersebut. Hal ini merupakan permintaan dari KBIH Arafah yang melarang jamaah untuk memberi informasi kepada orang lain.

"Memang dilarang. Kalau sudah pasti berangkat baru diperbolehkan bercerita kepada orang lain," ujar Soleh. Sang putra pun mengaku terkejut saat mengetahui sang ayah akan berangkat haji pada tahun ini.

Pasalnya, Yono baru mendaftarkan haji tahun lalu. "Mulai menabung (untuk naik haji) memang lama. Tapi daftarnya baru tahun lalu. Kaget juga waktu tahu Bapak bisa berangkat tahun ini," lanjutnya.

Melihat antusias tinggi yang ditunjukkan sang ayah membuat kedua putranya tak bisa berbuat banyak. "Bapak daftar sendiri tanpa meminta pertimbangan kami. Bapak memang begitu semangat. Sebab, itu memang cita-cita bapak sejak lama. Oleh karena itu, ketika ada peluang seperti ini, bapak langsung ambil," ujarnya.

Sholeh mengaku enggan menyetujui keberangkatan ayah mertuanya. Alasan paling utama yaitu karena dua mertuanya harus menggunakan paspor Filiphina.

Informasi mengenai kejanggalan tersebut diketahui melalui internet. Dia menemukan beberapa kasus haji ilegal yang juga melalui Filiphina di tahun sebelumnya. "Sebenarnya ini bukan kasus pertama kali. Saya sudah berusaha memberitahu namun Bapak tetap bersikeras," ujarnya.

Ongkos naik haji yang ditetapkan pemerintah Rp 36-Rp 40 juta. Sedangkan Untuk ONH Plus berkisar Rp 95-Rp 105 juta. (surya/bob)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved