Desain Pariwisata dalam Bingkai Kelokalan

Interaksi suatu bahasa dengan lingkungannya terjadi di mana tempat bahasa itu dituturkan.

Desain Pariwisata dalam Bingkai Kelokalan
POS KUPANG/SERVATINUS MAMMILIANUS
Dua kapal merapat--Dua unit kapal Pelni, Egon dan Tilong Kabila merapat bersamaan di Pelabuhan Labuan Bajo, Kamis (2/6/2016). 

Oleh: Vinsensius Gande
Pengurus PGRI Kabupaten Manggarai Barat

ARTIKEL ini mengacu pada pandangan Einar Ingvald Haugen, dalam buku yang berjudul The Ecolinguistics Reader, yang ditulis Alwin Fill & Peter Mühlhaüsler tahun 2001, yang menyatakan bahwa adanya interaksi bahasa dan ekologi, baik secara leksikal, gramatikal, tekstual, maupun kultural. Dijelaskan bahwa interaksi suatu bahasa dengan lingkungannya terjadi di mana tempat bahasa itu dituturkan. Pandangan Haugen didasari oleh pemikiran Sapir dan Whorf. Menurut Sapir dan Whorf, bahasa mempunyai fungsi budaya dan perkembangan kebudayaan dipengaruhi oleh bahasa, karena mempunyai fungsi prarasional. Dijelaskan bahwa bahasa dapat membentuk kognisi manusia karena kognisi manusia tergantung dari bahasa dalam eksternalisasinya dan akibatnya menjadi determinan pemahaman atas lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alamnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa dan budaya erat sekali kaitannya dengan ekologinya, di mana bahasa dan budaya tersebut dituturkan.

Kita ketahui bersama bahwa NTT menjadi salah satu tujuan wisata dunia. Bumi yang kita pijaki ini ibarat "surga di bumi." Banyak keajaiban yang dimilikinya, baik "binatang ajaib komodo", kakayaan laut, bahasa, budaya, maupun kehidupan sosial masyarakat. Keajaiban "binatang Komodo" sudah menjadi teks populis dunia internasional. Ikhwal ini menjadi kebanggaan kita sebagai orang yang dilahirkan di bumi NTT ini.

Sayangnya, banyak keajaiban lain, seperti bahasa daerah, budaya lokal, dan kehidupan sosial masyarakatnya yang belum dieksplor dan dieskpos dengan baik, bahkan cenderung dilupakan. Mungkin dianggap tidak substantif.

Bagi daerah kita yang merupakan surga aset ini, elemen penting lain sebagai corak pariwisata NTT, yang harus diekspos ke dunia internasional adalah bahasa daerah, budaya lokal dan ekologinya. Kepopulisan "keajaiban binatang Komodo" di kancah dunia internasional diharapkan tidak hanya dilihat dari ciri fisik dan kelangkaan dari binatang tersebut, akan tetapi diekspos juga bahasa daerah dan budaya lokal yang menyelimuti "binatang ajaib Komodo".

Aspek bahasa dan budaya yang perlu dieksplor dan diekspos, yaitu bagaimana masyarakat komodo berinteraksi secara lingual dengan "binatang ajaib Komodo"; bagaimana dependensi atau independensi masyarakat komodo dengan "binatang ajaib Komodo"; lalu bagaimana bentuk harmonisasi masyarakat komodo dengan "binatang ajaib Komodo". Dengan cara demikian, dapat diketahui ada atau tidaknya interaksi dan dependensi masyarakat di daerah itu dengan "binatang ajaib Komodo" tersebut?

Fitur Bahasa Daerah
Salah satu aspek penting yang belum dieksplorasi dalam pembangunan pariwisata NTT adalah bahasa daerah. Bagi daerah yang menjadikan pariwisata sebagai leading sector pembangunan, bahasa daerah perlu diperkenalkan ke dunia internasional, karena secara inherent bahasa daerah mengandung persilangan arus berpikir, yaitu filosofis, psikologi, dan antropologi atau hasil perenungan filosofis, motivasi, dan tradisi dari masyarakat di mana bahasa itu dituturkan. Dari bahasa itulah kita dapat mengetahui konsep berpikir manusia di mana bahasa itu dituturkan. Mencermati hal itu, maka diharapkan setiap objek wisata perlu dibuatkan teks dalam bahasa daerah. Kemudian baru diikuti oleh bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Hal ini penting, karena objek kajian para linguis internasional adalah bahasa lokal.

Bahasa daerah (boleh disebut bahasa Ibu) adalah bahasa yang menduduki posisi tersendiri dalam tatanan kebahasaan dan kehidupan manusia. Posisinya menunjukkan kedekatan relasi antara manusia dengan bahasa ibu. Sesungguhnya, bahasa ibu mengandung makna yang mendalam dan begitu kompleks. Sayangnya, bahasa ibu ibarat "telur di ujung tanduk". Berangkat dari keprihatinan itu, dunia melalui UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Kegiatan seminar internasional bahasa ibu pun kerap terjadi di mana-mana. Pada abad ke-21 ini, bahasa Ibu sebagai objek kajian menarik bagi kaum linguis dunia. Hal tersebut sebagai wujud kecintaan dunia internasional terhadap bahasa ibu. Hanya dengan cara demikian, bahasa Ibu sebagai kebanggaan daerah tidak tergerus akibat kemajuan zaman. Kalau boleh dibuatkan nama gerakan, yaitu "Gerakan Literasi Bahasa Daerah".

Fitur Budaya Lokal
Kebudayaan di NTT amat banyak dan amat unik. Setiap daerah memiliki kebudayaan yang bercorak kedaerahannya, baik corak tenunan, pakaian adat, tari-tarian, tradisi menanam dan memanen, alat dan bahan yang digunakan, simbol-sombol adat, ritual adat, ritual kelahiran, ritual perkawinan, ritual kematian, maupun ritual lainnya. Masing-masing unsur di atas dapat memerkaya bahasa daerah dari aspek leksikal, gramatikal, tekstual, dan kultural. Oleh karena itu, perlu dibuatkan teks tertulis dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah, sehingga mudah dipelajari oleh siapapun termasuk wisatawan. Dengan cara demikian, kebudayaan kita lebih dikenal oleh dunia luas. Kalau boleh dibuatkan nama gerakan, yaitu "Gerakan Literasi Budaya Lokal".

Agar "Gerakan Literasi Budaya Lokal" itu berjalan dengan baik, maka diperlukan revitalisasi kampung. Yang direvitalisasi adalah sistem kehidupan suatu perkampungan, termasuk revitalisasi simbol-simbol adat, misalnya rumah adat, tanaman budaya, dan berbagai tarian adat. Hidupkan kembali pola kehidupan di kampung yang bersifat tradisional, kekeluargaan, dan gotong-royong. Jika tidak demikian, program pariwisata sebagai leading sector dianggap "jauh panggang dari api." Jadi, program ini bukan membuat kampung menjadi kota, melainkan menjadi kampung adat yang asri, yang bernuasa wisata (kampung wisata), sehingga pada gilirannya ekonomi masyarakat di kampung tersebut dapat didongkrak. Perlu juga disadari bahwa kemajuan pariwisata bukan menggeruskan atau mengerosikan budaya, justru menguatkan budaya dan tradisi kita.

Fitur Ekologi
Aspek ekologi menjadi objek penting dalam pemertahanan bahasa dan budaya. Apabila aspek ekologi terjadi erosi, maka erosi pula bahasa dan budaya kita. Untuk diketahui, bahasa dan budaya yang kita anuti dan yang kita gunakan sebagian besar disumbangkan dari lingkungan di sekitar kita. Misalnya, Pulau Timor terkenal dengan Pohon Lontar. Pohon Lontar mungkin lebih determinan kontribusinya secara leksikal, gramatikal, tekstual, dan kultural dalam bahasa Timor daripada daerah lain yang bukan Pohon Lontar sebagai tanaman budayanya. Begitu pula daerah Manggarai terkenal dengan Pohon Enau (raping dalam bahasa lokal). Bagian-bagiannya menurunkan sejumlah leksikon dan gramatikal, yaitu dimulai dari leksikon yang berkaitan dengan penamaan, bentuk dan jenisnya, proses pembuatan menjadi tuak, alat dan bahan yang digunakan, hasil dari proses yang dilakukan, pewarnaan tuak, dan rasa tuak. Selain aspek leksikal dan gramatikal, pohon enau juga dapat memerkaya aspek tekstual dan kultural.

Fitur bahasa, budaya, dan ekologi posisinya sangat penting dalam membangun pariwisata kita di NTT. Mengapa tidak, lambat laun bahasa, budaya, dan ekologi kita, akan mengalami keerosian, seperti aspek leksikal, gramatikal, tekstual, dan kultural, termasuk ketergerusan jejak historis. Yang pada gilirannya, bahasa dan budaya kita, hanya ada dalam kognisi manusia atau sebagai makna kamus saja, namun bukan dalam realitasnya.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved