Perlu Sosialisasi Keunggulan SMK

Walikota Kupang, Jonas Salean, S.H, M.Si memperkirakan sekitar 3.300 orang siswa SMP dan SMA yang tidak mendapat tempat sekolah.

Perlu Sosialisasi Keunggulan SMK
POS KUPANG/ADIANA AHMAD
SISWA BARU - Siswa baru SMKN 1 Aesesa sedang megikuti kegiatan pengelanan lingkungan sekolah, Selasa (19/7/2016). 

KESADARAN siswa/i didukung tingginya motivasi orangtua murid untuk melanjutkan pendidikan anak ke jenjang yang lebih tinggi, yakni SLTP dan SLTA kini semakin meningkat. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya siswa yang mengikuti pendaftaran masuk SLTP dan SLTA.

Di Kota Kupang, jumlah siswa/i yang mendaftar masuk SLTP dan SLTA tahun ini terbilang melimpah. Menurut data Dinas Pendidikan Kota Kupang terjadi kelebihan daya tampung sekolah negeri dan swasta di Kota Kupang, yakni SMA 2.400 siswa dan SMP 700. Bahkan Walikota Kupang, Jonas Salean, S.H, M.Si memperkirakan sekitar 3.300 orang siswa SMP dan SMA yang tidak mendapat tempat sekolah, termasuk sekolah swasta karena sekolah swasta juga sudah penuh.

Namun, hal menarik di balik kelebihan siswa yang tidak tertampung di SMP dan SMA negeri itu, SMK di Kota Kupang justru masih mengalami kekurangan 1.400 siswa. Masih banyaknya kekurangan siswa baru di SMK mengindikasikan minat siswa masuk SMK sangat kurang.

Pertanyaannya, mengapa minat siswa masuk SMK menurun? Padahal kalau dibilang, lulusan SMK itu sudah jadi produk setengah jadi. Mereka sudah memiliki keterampilan dasar (basic skill), tinggal ditambahkan atau ditingkatkan.

Setidaknya ada dua alasan menurunnya minat siswa masuk SMK. Pertama, orientasi pendidikan masyarakat NTT masih pada pegawai negeri sipil (PNS) atau ilmunya dipakai orang lain, bukan untuk kemandirian dalam berusaha atau bekerja.

Sampai dengan tahun 1980, banyak siswa masuk SPG karena setelah tamat langsung diangkat menjadi guru PNS di SD. Banyak siswa yang masuk SMEA karena setelah tamat otomatis diangkat menjadi PNS di kantor pemerintah atau di bank. Banyak siswa masuk STM karena setelah tamat langsung diangkat menjadi PNS di Dinas Pekerjaan Umum (PU). Kalaupun tidak diakomodir di lembaga pemerintah, lulusan sekolah kejuruan ini diterima bekerja di BUMN atau perusahaan swasta bergengsi.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Lulusan SMK itu tidak lagi langsung diangkat menjadi PNS atau diprioritaskan bekerja di perusahaan ternama seperti dulu. Dalam urusan mencari kerja, lulusan SMK dan SMA sama pusingnya mencari kerja. Minat lulusan SMK untuk berwirausaha atau membuka usaha sendiri masih kurang. Selain karena ketiadaan modal usaha, juga karena usaha sendiri masih dianggap kurang bergengsi.

Kedua, motivasi sekolah anak-anak sekarang sering hanya karena dipengaruhi teman. Ketika temannya mengajak masuk di sekolah A atau di kota A, maka teman lainnya juga ikut. Ketika temannya mengatakan sekolah A lebih baik, maka temannya juga langsung percaya. Padahal apa yang diceritakan belum tentu benar karena cerita itu juga berkembang dari mulut ke mulut.

Untuk meningkatkan minat siswa masuk SMK, maka hal penting yang perlu dilakukan ialah meningkatkan sosialisasi. Dalam era komunikasi saat ini, sosialisasi merupakan hal penting dan mutlak. Dalam sosialisasi, sekolah harus mampu menunjukkan keunggulan-keunggulan komparatifnya yang tidak dimiliki sekolah lain. Hal itu diyakini bisa menumbuhkan minat siswa masuk SMK.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved