Ada 2.000 Pria Imigran Terlibat Serangan Seksual di Jerman

Polisi Jerman mengatakan, serangan seksual massal - mulai dari meraba-raba hingga pemerkosaan - di Cologne telah melibatkan 2.000 pria imigran.

Editor: Rosalina Woso
Express/Getty Images
Ribuan orang menggelar unjuk rasa di Jerman pada Januari 2016 menuntut polisi mengusut serangan seksual massal oleh pria imigran pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2015. 

POS KUPANG.COM, COLOGNE --Polisi Jerman mengatakan, serangan seksual massal - mulai dari meraba-raba hingga pemerkosaan - di Cologne telah melibatkan 2.000 pria imigran.

Serangan seksual massal itu dilakukan di beberapa kota di Jerman selama malam pegantian tahun baru yang lalu.

Situs berita Express.co.uk, Senin (11/7/2016), melaporkan, kasus itu melibatkan sekitar 2.000 pria imigran. Mereka melakukan 1.200 serangan seksual.

Cologne, kota tua berusia sekitar 2.000 tahun berada di bagian barat Jerman, ini menjadi tempat yang paling banyak mengalami kasus pelecehan seksual.

Pada malam pergantian tahun itu, di tengah kerumunan massa yang sedang larut dalam kegembiraan dan konser, banyak perempuan menjadi korban pelecehan dan serangan seksual.

Laporan setebal 50 halaman yang dibuat Kantor Investigasi Kriminal Federal (BKA) menunjukkan, serangan seksual itu dimulai dari aksi meraba-raba bagian sensitif perempuan hingga perkosaan.

Sebanyak 642 kejahatan dilaporkan sebagai serangan seksual murni. Selebihnya, 239 lainnya adalah kejahatan gabungan antara kekerasan seksual dan pencurian.

Sejauh ini hanya 120 tersangka diidentifikasi dan hanya empat predator seks diberikan hukuman penjara, sedangkan dua dari mereka ditangguhkan.

Laporan terbaru sedikit skeptis bahwa akan lebih banyak pelaku dapat diseret ke pengadilan.

Kepala BKA, Holger Munch, mengatakan, "Kita perlu mengasumsikan bahwa banyak pelaku tidak akan diselidiki."

Hasil penyelidikan, separuh dari para pelaku yang terlibat adalah pendatang baru, kurang dari setahun masuk Jerman.

Laporan itu menyatakan, "Dalam hal ini jelas ada hubungan antara munculnya fenomena ini dan massa imigrasi 2015."

Ribuan pria yang dicurigai itu, hampir tidak ada yang berasal dari Suriah. Imigran terbanyak datang dari Afrika Utara. (Kompas.Com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved