Opini

Vaksin Palsu, Cermin Mafia Bidang Kesehatan

SEORANG anak tumbuh tanpa proteksi terhadap berbagai ancaman penyakit. Tubuhnya lemah dan tidak tahan terhadap berbagai perubahan cuaca

Vaksin Palsu, Cermin Mafia Bidang Kesehatan
-
Ilustrasi

Oleh: Vinsen Belawa Making, SKM, M.Kes
Wakil Ketua Stikes CHMK-Sekretaris Eksekutif IAKMI Provinsi NTT

SEORANG anak tumbuh tanpa proteksi terhadap berbagai ancaman penyakit. Tubuhnya lemah dan tidak tahan terhadap berbagai perubahan cuaca. Ia hidup dalam bayang-bayang kematian yang siap merenggutnya kapan pun juga. Inilah ironi anak yang menjadi korban Vaksin Paslu yang telah terjadi belasan tahun lamanya. Dengan demikian, maka gebyar atau kemeriahan pekan imunisasi yang dilakukan setiap tahunnya adalah sesuatu yang sia-sia. Sebab dalam kesehatan masyarakat setiap individu dalam komunitas harus memperoleh perlindungan ini. Apabila ada satu orang saja yang tidak ter- cover, maka program tersebut dinyatakan gagal.

Gambaran buram ini menambah panjang deretan kebobrokan moral dalam dunia kesehatan. Munculnya fakta vaksin palsu ini menandakan bahwa para mafia di dunia kesehatan sudah sangat mengkhawatirkan.

Perlu Khawatir?
Setiap orang tua, apalagi ibu, pasti akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya terutama dalam hal kesehatan. Cara paling mudah, murah dan aman untuk melindungi bayi-balita dari berbagai penyakit berbahaya adalah dengan dilakukan imunisasi sejak bayi baru lahir. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan, wabah, sakit berat, cacat atau kematian akibat penyakit-penyakit tersebut. Setelah diimunisasi lengkap, bayi-balita masih bisa tertular penyakit-penyakit tersebut, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya, dan jarang menularkan pada bayi-balita lain sehingga tidak terjadi wabah. Sampai saat ini, 194 negara menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit berbahaya.

Rasa aman kita saat ini terusik dengan terungkapnya kasus pemalsuan vaksin di Bekasi, dengan salah satu tersangkanya adalah pasangan suami istri (mantan perawat). Hal yang lebih mengerikan lagi ternyata tindakan pemalsuan ini telah dilakukan sejak tahun 2003, artinya sindikat pemalsuan vaksin ini telah beroperasi selama 13 tahun dan telah tersebar ke beberapa daerah di Indonesia.

Banyak kalangan mengatakan hal ini tidak perlu dikhawatirkan termasuk pernayataan resmi dari Kementerian Kesehatan RI melalui akun Twitter resmi @KemenkesRI, Kemenkes menyampaikan tujuh alasan agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan peredaran vaksin palsu.

Pertama, jika anak Anda mendapatkan imunisasi di posyandu, puskesmas, dan rumah sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya.

Kedua, jika anak Anda mengikuti program pemerintah yaitu imunisasi dasar lengkap di antaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG, pengadaannya oleh pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.

Ketiga, jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio dan Campak, pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman. Keempat, ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas. Kelima, diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.

Keenam, dikabarkan isi palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan. Ketujuh, karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.

Lantas apakah dengan hal ini kita lalu mendiamkan dan mengamini hal ini? Apakah ada jaminan tidak ada mafia kecil lain yang bermain dan memanfaatkan kesempatan ini? Apakah kita yakin selama belasan tahun, vaksin ini tidak menyebar ke seluruh wilayah Indonesia? Apakah ada data berapa jumlah balita yang mendapatkan imuniasasi di rumah sakit dan tempat praktik lain (kemungkinan menggunakan vaksin abal-abal)? Sudahkah kita hitung, berapa jumlah bayi-balita yang telah menjadi korban? Anak-anak tak berdosa itu kini menjadi rentan terhadap penyakit berbahaya yang bisa mengancam jiwa, karena vaksin yang digunakan untuk imunisasi bukan vaksin yang asli.

Penulis sepakat dengan sebuah petisi kepada Presiden dan beberapa pihak terkait lainnya dengan judul, "Selamatkan nyawa Balita Indonesia, Usut Tuntas Vaksin Palsu!" Isi petisi ini antara lain: 1) mendukung penyidikan kasus ini, meminta agar Polri dapat membasmi secara tuntas tindakan pemalsuan vaksin dan mendukung penindakan yang tegas pada para pelaku; 2) meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk menarik semua vaksin yang saat ini beredar dan menggantinya dengan vaksin yang ASLI dan AMAN guna menjamin keamaan dan perlindungan kesehatan bayi-balita Indonesia; 3) meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk mengumumkan nama-nama distributor, rumah sakit, klinik atau tempat kesehatan lainnya yang terindikasi dan/terbukti menggunakan vaksin palsu; 4) mendorong Pemerintah untuk melakukan vaksin ulangan terhadap anak-anak yang lahir antara tahun 2003 -2016 guna menjamin generasi Indonesia yang sehat dan bebas penyakit berbahaya; 5) mendorong BPOM untuk lebih agresif dalam mengawasi dan memfilter distribusi vaksin dan obat-obatan pada umumnya.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah yang terlibat dalam kasus ini adalah orang-orang yang bergerak di dunia kesehatan. Mereka adalah para mafia yang dengan tahu dan mau membuat vaksin palsu ini, menjual, membeli dan mungkin juga dengan tahu dan mau memberikannya kepada anak-anak yang tak berdaya. Sekali lagi uang membutakan nurani!. Sungguh amat sangat disayangkan.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved