Ritual Panen Madu Timor Di Hutan Amfoang

Haram Menyimpan Milik Perempuan (2)

Usai ritual adat, lima orang pemanen madu atau yang disebut moe one menyulut api secara bersamaan menggunakan alat bernama lug.

Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/JOHN TAENA
Para meo one sesaat sebelum memanjat pohon untuk memanen lebah di hutan Eunaun, Desa Oh aem Satu, Kecamatan Amfoang Selatan, Jumat (24/6/2016). 

Setiap tahun warga Desa Oh'aem Satu bisa memanen 800 hingga 1.000 liter madu murni di hutan Amfoang.

PARA tetua adat Kampung Haubesi, Desa Oh'aem Satu, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang mengelilingi api unggun, Jumat (24/6/2016) malam.

Usai ritual adat, lima orang pemanen madu atau yang disebut moe one menyulut api secara bersamaan menggunakan alat bernama lug.

Lug yang terbuat dari rumput kering dan dililiti sabut kelapa mengepulkan asap. Satu persatu meo one memanjat pohon. Layaknya seekor tupai para meo one merangkak cepat hingga ketinggian dahan pohon di hutan Eunaun. Mereka merayap belasan meter untuk mencapai sarang lebah. Disulut asap api lebah pun beterbangan. Sambil berbalas pantun dan melantunkan lagu, tangan meo one lincah mengambil madu dari sarang lebah.

Dua anak lelaki usia belasan tahun juga menyanyi dan berbalas pantun. Tangan mereka tak henti-hentinya memukul batang pohon hingga menghasilkan dentuman keras sebagai musik pengiring. Para meo one terus bekerja hingga sinar bulan mulai menerangi hutan itu.

Mereka pun turun dari pohon. "Kalau bulan terang kita tidak bisa ambil madu lagi, nanti kena sengat," demikian Paulus Kobos (34), seorang meo one.

Ketika berada di atas pohon, lanjutnya, seoran meo one harus tahan menghadapi sengatan lebah yang bertubi-tubi. Mereka harus bisa mengatur keseimbangan mengikuti ayunan dahan pohon agar tidak terjatuh. Saat merayap dari dahan yang satu ke dahan yang lain, batang pohon sangat licin karena sudah dilumuri madu.
"Kita kena sengat itu sudah biasa," katanya.

Sebelum ritual adat untuk panen madu, kata Paulus, seorang meo one harus puasa mandi selama tiga hingga lima hari. Hal ini untuk menghindari aroma wangi yang tidak disenangi lebah. Meo one tidak boleh membawa atau menyimpan barang milik perempuan atau pacarnya. Memiliki jiwa yang bersih, tidak boleh berselisih paham, baik di dalam keluarga atau sesama manusia maupun dengan alam.

"Kalau ada masalah ya kita harus naketi (pemulihan,Red) dulu di dalam keluarga. Istilahnya kita damai dulu dengan sesama dan alam," jelasnya.

Hal senada dikatakan Gerson Kobos (56). Dijelaskanya, selingkuh sangat diharamkan bagi seorang meo one di Kampung Hauoni. Jika seorang meo one sudah melanggar, maka yang bersangkutan tidak mau memanjat pohon untuk panen lebah. "Paling parah itu kalau selingkuh, jadi kalau kita tidak mau naik pohon berarti istri langsung curiga jangan sampai ada selingkuh," candanya.

Kecelakaan yang berujung maut saat mengambil madu sudah sering terjadi. Sejumlah meo one pernah disengat lebah hingga meninggal dunia, begitupun dengan orang yang terjatuh dari atas pohon.

"Pernah ada yang kena sengat sampai mati, itu karena di dalam keluarga mereka berselisih," kata Gerson.

Sekitar tiga tahun silam, lanjutnya, seorang meo one dari wilayah itu mengalami kecelakaan sampai meninggal dunia. Ketika dia sudah berada di ujung dahan, tiba-tiba terjatuh dan meninggal dunia. "Itu karena dia berkelahi dengan anggota keluarganya," kata Gerson.

Mantan kepala desa setempat, Mesak Abednego Tanaos (38) mengatakan, rata-rata setiap tahun warga desa setempat bisa memanen 800 hingga 1.000 liter madu murni. "Di sini ada sekitar 12 sampai 13 titik lokasi hutan yang jadi tempat lebah. Satu pohon itu bisa terdapat 40 sampai 50 sarang, satu sarang kita bisa dapat sampai 20 liter madu," kata Mesak.

Selain hasil hutan, tambah Tanaos, desa setempat juga memiliki potensi pertanian dan perkebunan. "Ada jeruk dan alpukat itu kalau musim panen kita kasih makan babi saja. Kalau pemerintah bisa perhatikan infrastruktur jalan ke sini mungkin masyarakat bisa jual hasil ke pasar," demikian Mesak. (john taena/habis)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved