Impor Daging Kerbau Beku RI Rugi Banyak

Importasi daging dari India juga berpotensi memasukkan PMK ke Indonesia sehingga peternak menjadi pihak yang bakal paling dirugikan

Shutterstock
Daging merah 

POS KUPANG. COM, JAKARTA - Rencana Indonesia mendatangkan daging kerbau beku dari India mendapat penolakan dari peternak dalam negeri. Pasalnya, importasi daging dari India juga berpotensi memasukkan PMK ke Indonesia sehingga peternak menjadi pihak yang bakal paling dirugikan.

Rochadi Tawaf, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) mengatakan bila pemerintah tetap ngotot memboyong daging impor India ke Indonesia, artinya pemerintah tidak menghargai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang sudah memutuskan pelarangan importasi daging berdasarkan zona.

Indonesia juga bisa berada dalam situasi berbahaya mengingat Indonesia belum memiliki prosedur pengamanan dan proteksi dalam negeri terhadap wabah PMK sebagaimana ditetapkan OIE. "Indonesia belum ada laboratorium yang memeriksa kondisi daging yang diimpor dan otoritas yang melakukan tanggap darurat," ujarnya.

Rochadi menjelaskan, hingga saat ini, OIE merilis India masih belum bebas dari PMK, termasuk dari segi zona. Untuk itu, Rochadi mendesak pemerintah tidak buru-buru memutuskan impor daging sapi dari India.

Selain soal penyakit, hal lain yang menjadi keberatan peternak lokal atas impor daging sapi dari India adalah potensi kerugian peternak karena pasokan daging sapi bakal banjir di Tanah Air sehingga harga akan jatuh.

Tak hanya itu, dari sisi ekonomi, kerugian yang akan tampak adalah produk industri berbasis daging sapi bakal kesulitan menembus pasar ekspor lantaran dunia internasional menganggap Indonesia mengonsumsi daging sapi dari negara yang belum bebas dari penyakit mulut dan kuku.

Bahkan, belum lama ini terdengar kabar jika Pemerintah Australia meminta para wisatawan mereka yang datang ke Indonesia harus mendapatkan vaksin agar tidak tertular penyakit yang potensial dibawa dari daging asal India. Jadi waspadalah. (kontan)

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved