Liga Pelajar U16 Piala Menpora 2016

Kesempatan bagi Para Pemain Muda

Tak sekadar bermain bola di tanah rawa, bekas sawah atau lapangan parkir tapi mereka bisa merasakan indahnya Gelora Bung Karno Jakarta.

Penulis: Sipri Seko | Editor: Sipri Seko
ISTIMEWA
Panitia nasional, staf Kemenpora RI, koordinator provinsi dan panpel pose bersama seusai bimbingan teknis di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Jumat (10/6/2016). 

SOSOK M Koesnaeni atau Bung Koes ternyata tidak sekadar komentator bola di televisi. Sebagai praktisi konsep dan idenya brilian. Dia menjadi bintang dalam acara bimbingan teknis (bimtek) Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016 di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Kamis (9/6/2016).

"Inilah kesempatan bagi para pemain muda kita untuk berprestasi. Tidak hanya berlatih, berlari dan bermain di kampung, tapi mereka bisa berprestasi di level yang lebih tinggi," kata Koesnaeni. Selama dua hari penuh, Koesnaeni dan tim memaparkan ide tentang turnamen. Turnamen ini menjadi bagian dari tangga pembinaan pemain usia muda secara berjenjang.

Ketertinggalan prestasi sepakbola Indonesia butuh pembenahan yang mendasar. Dan, ini harus dimulai dengan fokus membenahi pembinaan usia muda sebagai fondasinya. Agar pembinaan usia muda bisa berjalan baik, pemerintah perlu memfasilitasi dengan berbagai wadah kompetisi di kelompok U-12 hingga U-18.

Liga pelajar berbeda dengan turnamen sepakbola lainnya. Digelar berjenjang dari tingkat region, provinsi hingga seri nasional, paling tidak akan ada 72 ribu pemain muda yang terlibat kompetisi ini. Setiap provinsi minimal akan dibagi dalam enam region dengan mempertimbangkan aspek geografis dan keterwakilan.

Peserta dari turnamen bisa dari klub olahraga, SSB, akademi, sekolah ataupun organisasi lainnya. Asalkan berstatus pelajar, semua pemain muda berhak mengikuti kompetisi.

Tim juara dan runner-up tiap region akan bertanding di tingkat provinsi. Juara provinsi akan bertanding di tingkat nasional di Jakarta, 1-9 September 2016. Di tingkat nasional, 34 peserta dibagi dalam delapan grup menggunakan sistem setengah kompetisi. Juara dan runner-up tiap grup lolos ke putaran kedua atau perdelapan final. Hingga babak perdelapan final, semua pertandingan akan digelar di Jakarta. Empat tim yang lolos ke semifinal. Dan, babak semifinal hingga final akan digelar di Sidoarjo, Jawa Timur.

Pertandingan di level region diikuti 12-16 klub sehingga paling sedikit akan ada tiga ribu klub dari seluruh Indonesia yang terlibat. Sebuah ide yang luar biasa. Inilah kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari seluruh pelosok negeri menggapai impian bermain sepakbola di level lebih tinggi. Tak sekadar bermain bola di tanah rawa, bekas sawah ataupun lapangan parkir, tapi mereka bisa merasakan indahnya Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Bagaimana dengan kondisi di NTT? Antusiasme peserta sangat tinggi. Meski jadwal dan region belum ditetapkan, namun komunikasi dan persiapan sudah dilakukan. Tekad berprestasi di level nasional, membuat persaingan sudah dimulai di tingkat klub. Ini merupakan sebuah potensi yang sangat besar. Event ini memang tidak boleh dilepas. Ada harapan besar yang terbungkus di dalamnya. Sebentar lagi akan ada seleksi pemain Timnas Indonesia U-19. Setelah era Yabes Roni Malaifani mestinya lahir lagi anak NTT yang bisa menembus level timnas. Satukan tekad, kuatkan semangat. NTT Bisa! (sipri seko)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved