Mahasiswa PGRI NTT Tak Dipedulikan

Kami sia-sia bayar uang kos, tapi tidak kuliah. Belum lagi beban hidup lainnya. Kami harus cari uang untuk galang aksi ini karena tidak ada yang pedu

Editor: Ferry Ndoen
Juan seli tupen
MAHASISWA - Ratusan mahasiswa Universitas PGRI NTT menggelar pertemuan di Taman Nostalgia, Kupang, Rabu (11/5/2016). 

POS KUPANG.COM, KUPANG -Forum Persatuan Mahasiswa PGRI NTT kembali bentuk tim untuk aksi lanjutan menuntut keadilan status kampus mereka. Pertemuan intern sekitar 300 mahasiswa di Taman Nostalgia, Rabu (11/5/2016) tersebut selain membahas persiapan aksi demo juga bersepakat agar tidak lagi melakukan registrasi ulang, daftar KKN dan ujian skripsi.

Mereka juga sepakat mencegah adanya penerimaan mahasiswa baru tahun 2016. Mereka juga membentuk tim menggalang dana aksi lanjutan. Aksi ini sebagai tindakan terakhir setelah sadar kalau nasib mereka tidak ada yang peduli.

"Hari ini kami duduk bersama berdiskusi menyatukan satu persepsi untuk aksi lanjutan. Jadi kami yang terkumpul ini gabungan dari mahasiswa PGRI sebagian yang telah pulang kampung, ada yang sedang bekerja dengan maksud berjuang bersama-sama mencari solusi menyelamatkan nasib kami," ujar Koordinator Lapangan, Oktavianus Lede, di sela-sela pertemuan.

Menurutnya, mahasiswa PGRI yang terhimpun saat ini sekitar 800 orang dan sebagian masih dalam perjalanan ke Kupang. "Kalau tidak dengan aksi siapa yang mau dengar kami. Biar kami undang semua mahasiswa untuk berkumpul menuju gubernur, agar pemerintah tahu kami kehabisan daya," ujar Oktavianus.

Sekretaris Forum, Melkianus Seinggo Bily, mengatakan, pertemuan mahasiswa PGRI ini selain menyatukan persepsi juga membentuk tim untuk menggalang dana aksi. "Kasihan sekali kami. Kami sia-sia bayar uang kos, tapi tidak kuliah. Belum lagi beban hidup lainnya. Kami harus cari uang untuk galang aksi ini karena tidak ada yang peduli," ujar Melkianus.

"Lucu PGRI ini. Masalah dalam rumah belum selesaim mereka buka pendaftaran cari mahasiswa lagi. Kami saat ini berstatus tidak jelas, jadi calon mahasiswa baru jangan mendaftar di PGRI. Kemudian kami juga saling mengingatkan agar tidak boleh ada yang regis, mendaftar KKN dan daftar wisuda karena untuk apa regis kita tidak kuliah, untuk apa daftar wisuda ijazah kita tidak diakui," ujar Melkianus.

Frans Edison Ratu menambahkan, beberapa hari kedepan mereka akan terus menggalang massa yang berstatus mahasiswa PGRI yang berada diluar Kupang untuk ikut bergabung. "Kalau di Jawa sana ada bakar ban, kami bisa bakar kampus. Kami juga bisa berbuat lebih anarkis. Bukan mau tunjuk jago, kami hanya ingin didengar. Kami ingin kuliah dengan tenang dengan ijazah yang jelas," tegas Frans. (sel)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved