Perluasan Landasan Pacu Bandara Frans Lega Dimasukkan dalam RPJMD
Perpanjangan landasan pacu (run way) Bandar Udara (Bandara) Frans Sales Lega di Kota Ruteng
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Rosalina Woso
Laporan Wartawan Pos Kupang, Eugenius Mo'a
POS KUPANG.COM,RUTENG -- Perpanjangan landasan pacu (run way) Bandar Udara (Bandara) Frans Sales Lega di Kota Ruteng,Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021, Bupati dan Wabup Manggarai, Dr.Deno Kamelus, SH MH,dan Drs.Victor Madur. RPJMD lima tahun
mendatang sedang dibahas pemerintah daerah bersama tim ahli dari perguruan tinggi.
"Perencanaan perluasan run way sudah masuk RPJMD. Kita harapkan rencana tambahan perpanjangan 200 meter menjadi 1.700 meter dari panjang landasan saat ini1.500 meter, tetapi itu juga disesuaikan kebutuhan perhubungan udara," kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Manggarai, Apri Laturake, S.H,Kamis (15/4/2016).
Untuk memperpanjang landasan, Apri menambahkan, pemerintah daerah bertanggungjawab melakukan pembebasan lahan milik masyarakat. Lahan itu dihibahkan kepada Kementrian Perhubungan RI untuk melakukan
pembangunannya.
"Saya belum bisa pastikan kawasan yang terkena dampak (pembebasan). Karena ada perhitungan teknis tentang kawasan keselamatan penerbangan oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan," ujar Apri.
"Saya juga tidak bisa mendahului kesimpulan sementara, karena isu ini (bebaskan lahan) peka sekali dan punya dampak sosial masyarakat . Tapi kalau tim teknis yang membuat kesimpulan maka Pemkab akan melakukan berbagai langkah,"Apri menambahkan.
Saat ini, bandara yang terletak pada ketinggian1.000-an meter diatas permukaan laut (DPL) melayani penerbangan komersial menggunakan pesawat ATR milik maskapai TransNusa dari Kupang-Ruteng pergi pulang setiap pagi.
Setiap pekan sekali, ada penerbangan subsidi dari Selayar-Ruteng PP dengan pesawat jenis Cassa.
Setelah pukul10.00 Wita tak ada lagi penerbangan karena Kota Ruteng dan sekitarnya mulai diselimuti kabut atau mendung. Bahkan pada puncak musim hujan Januari-Maret setahun silam, tak ada penerbangan ke Ruteng.(*)