Lukisan Karya Muhdi dari Kain Perca Pikat Wisatawan Borobudur

Kain bekas atau perca hanya dianggap sampah yang layak dibuang oleh sebagian orang.

Lukisan Karya Muhdi dari Kain Perca Pikat Wisatawan Borobudur
Kompas.com/Ika Fitriana
Muhdi memperlihatkan lukisan kain perca batik hasil karyanya. 

POS KUPANG.COM, MAGELANG --Kain bekas atau perca hanya dianggap sampah yang layak dibuang oleh sebagian orang. Namun bagi Muhdi (51), kain perca menjadi karya lukisan yamg memiliki nilai seni dan harga yang tinggi.

Dijumpai di kediamannya di Dusun Bumen Jelapan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, belum lama ini, Muhdi terlihat asyik merangkai lembaran-lembaran perca batik beraneka warna di atas papan triplek.

Tangannya begitu cekatan namun penuh kehati-hatian menempelkan satu per satu lembaran kain beraneka warna dan motif itu.

"Nempelnya harus hati-hati, biar tidak lepas saya pakai paku bundel," kata Muhdi.

Muhdi mengatakan dirinya sedang menyelesaikan sebuah lukisan pesanan dari seorang wisatawan Candi Borobudur. Sudah enam bulan belakangan, Muhdi mulai menerima pesanan lukisan yang sebagian besar bertema alam itu. Pesanan datang dari warga sekitar dan lebih banyak datang dari wisatawan Candi Borobudur.

"Pernah ada pesanan dari Belanda, Taiwan, Perancis, kabanyakan wisawatan yang sudah melihat katalog yang ada di Taman Wisata Candi Borobudur, lalu mereka mampir kemari," kata Muhdi.

Lukisan kain perca batik karya Muhdi tergolong sederhana karena menggunakan bahan-bahan bekas dan alam sekitar, seperti pelepah batang talas yang sudah dikeringkan, kayu triplek, paku bundel, plastik kresek, cat genting, dan tentu saja kain perca batik.

Suami dari Siti Aisyah itu menjelaskan, pelepah batang talas yang ambil di kebunnya itu dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi mirip batang pohon, plastik kresek bening ditempelkan menjadi mirip air terjun, sedangkan kain perca batik dirangkai menjadi mirip tanah, sawah, kebun, burung hingga Candi Borobudur.

Muhdi konsisten memakai kain batik sebagai bahan utama lukisannya karena dinilai memiliki motif yang unik dan khas Indonesia. Hasil lukisannya pun menjadi lebih menarik. Apalagi di sekitar Candi Borobudur banyak produsen kain batik.

"Kain batik yang saya pakai ada yang dikasih, ada juga yang beli Rp 3.000 per kilogram dari beberapa penjahit batik," ungkap dia.

Halaman
12
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved