Kamis, 28 Mei 2026

Mengintip "Kampung Parigi Golok" di Bogor

Kampung Parigi yang terletak di sebelah utara Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Ciseeng

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.COM / RAMDHAN TRIYADI BEMPAH
Abdullah (38), salah satu perajin golok di Kampung Parigi, Desa Ciseeng, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, sedang menyelesaikan golok buatannya untuk dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jakarta dan Bogor, Minggu (3/4/2016). 

POS KUPANG.COM, BOGOR -- Kampung Parigi yang terletak di sebelah utara Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Ciseeng, menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Meski cukup dikenal sebagai penghasil ikan hias terbesar di Jawa Barat, namun kenyataannya masyarakat di sana punya keahlian lain dalam hal pandai besi.

Tak dapat dipungkiri, banyak masyarakat Kampung Parigi memilih bekerja sebagai perajin golok untuk menunjang ekonominya. Meskipun, ada juga yang lebih memilih sebagai petani dan buruh.

Hampir di setiap rumah penduduk terdapat bengkel pembuatan golok, parang, arit, dan jenis lainnya. Entah dari mana dimulai, konon kemampuan pandai besi itu diturunkan dari pendahulunya.

Salah satu penduduk di Kampung Parigi yang masih setia menjadi perajin golok adalah Abdullah. Sudah 10 tahun pria berusia 38 tahun itu berprofesi sebagai perajin golok.

Ribuan golok sudah dibuatnya. Banyak golok hasil karyanya dikirim ke pasar-pasar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dengan harga relatif terjangkau, golok buatannya kini dilirik banyak orang.

"Sekali pembakaran, 5 sampai 6 golok saya buat. Paling banyak, sehari bisa buat 25 golok," ucap Abdullah saat ditemui di bengkel golok miliknya, Minggu (3/4/2016).

Lantas, apa yang membuat dirinya masih bertahan menjadi perajin golok?

"Orangtua saya adalah pembuat golok. Itu diwariskan kepada saya," kata dia.

Dibantu bersama dua karyawannya, Abdullah mengaku hanya membuat golok berdasarkan pesanan saja. Dengan cara itu, dia dapat menghemat ongkos produksi.

"Perajin harus kreatif membuka peluang karena dukungan pemerintah masih sangat kurang," imbuhnya.

Abdullah membuat golok dalam ukuran kodi dengan harga per satuannya sebesar Rp 20.000. Artinya, jika satu kodi berisi 20 golok, maka dia mendapat Rp 400.000 sekali penjualan.

"Ada juga orang yang pesen golok khusus. Kalau itu harganya beda lagi. Bervariasi, tergantung panjang dan bentuk golok yang diminta," tutur dia.

Abdullah berharap agar pemerintah bisa membantu para perajin untuk bisa bertahan. Pemerintah cenderung membiarkan perajin berjuang tanpa pendampingan.

Mayoritas dari perajin kecil memasarkan hasil kerajinannya di pinggir jalan atau pasar. Adapun perajin yang sudah menembus pasar ekspor lebih memilih berjualan lewat internet atau bekerja sama dengan pengepul di daerah lain. (Kompas.Com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved