Liputan Khusus
Warga Kota Kupang Rasakan Manfaat Program Sejuta Rumah
Kemudahan itu dialami pasangan Nyoman Budiawan dan Elisabeth Tangkonda.
POS KUPANG.COM, KUPANG - Program Sejuta Rumah atau rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dari pemerintah pusat sudah dirasakan manfaatnya oleh sebagian warga Kota Kupang. Mereka senang karena uang muka rendah dan prosesnya mudah.
Kemudahan itu dialami pasangan Nyoman Budiawan dan Elisabeth Tangkonda. "Kami merasa bersyukur telah memiliki rumah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan)," kata Nyoman di Perumahan Pondok Indah Matani Kupang, Senin (14/3/2016) siang.
Kegembiraan pasangan suami istri ini berasalan karena sebelumnya mereka kos dan berulangkali pindah tempat. Pasangan ini menikah tahun 2013. Karena belum memiliki rumah pribadi, keduanya mengontrak di perumahan BTN Kolhua Kupang dengan biaya sewa relatif mahal Rp 15 juta per tahun.
Suatu ketika Nyoman dan Elisabeth mendengar informasi pameran perumahan di Aula El Tari Kupang yang diprakarsai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) NTT. Melalui Program Satu Juta Rumah, Nyoman dan istrinya mencari tahu tentang informasi tersebut. Mereka mendatangi kantor PT Pembangunan Sehat Sejahtera di Aula El Tari Kupang.
"Kami cukup senang dengan program pemerintah ini karena ada kemudahan. Kemudahan tersebut didapatkan melalui perumahan Pondok Indah Matani. Sebenarnya ada biaya peningkatan kualitas Rp 10.000.000, tetapi diberi kemudahan oleh developer untuk menyicil tanpa bunga. Kami akhirnya mendapat rumah di Blok W Nomor 40 ini. Tak sampai satu bulan sudah bisa serah terima," tutur Nyoman.
Sebagai orang muda, kata Nyoman, untuk mengumpulkan uang tunai Rp 126.500.000 membutuhkan waktu lama. Saat uangnya terkumpul, harga rumah sudah terlanjur naik. Bersyukur dengan program Satu Juta Rumah uang muka hanya satu persen. Istrinya sebagai seorang PNS yang mengajukan permohonan rumah FLPP untuk mendapatkan DP murah dan menggunakan Bapertarum (Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil).
Down Payment (DP) atau uang muka satu persen dari harga rumah, lanjut Nyoman, berarti waktu itu hanya mempersiapkan uang muka Rp 1.265.000, namun saat BTN melihat masih ada cicilan sepeda motor, DP dinaikkan menjadi lima persen, sehingga uang muka menjadi lima persen. Masih ada biaya lain-lain, seperti BPHTB (biaya peralihan hak atas tanah dan bangunan) disiapkan kurang lebih Rp 3.500.000, notaris Rp 1.500.000, biaya profisi bank termasuk cicilan pertama dan biaya bank sekitar Rp 4.000.000, sehingga final yang disiapkan sekitar Rp 15.325.000. "Bayangkan kalau DP-nya 30 persen, berapa banyak uang yang harus disiapkan. Kami merasa sangat bersyukur dan dibantu dengan DP satu persen untuk perumahan FLPP ini," tuturnya.
Agar bisa mendapatkan rumah dengan cepat, maka semua persyaratan dan kebutuhan yang diperlukan dipenuhi dengan cepat pula. Marketing di PT Pembangunan Sejahtera Sehat sangat komunikatif. Semua hal bisa dikomunikasikan lewat telepon, terkait apa saja yang masih kurang dan harus dipenuhi.
"Pada dasarnya kami sudah senang bisa punya rumah sendiri," kata Nyoman.
Ia bersama istri baru saja satu bulan menempati rumah baru itu. Sehingga furniture rumah belum ditata, masih dalam proses pemberesan. Saat ia memasuki rumah tersebut, rumah FLPP yang bercat hijau ini, dialasi lantai keramik, plafon, memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Rumah FLPP tipe 30 dengan luas tanah 120 meter persegi. Ada halaman depan, tanah kosong di samping kiri rumah yang bisa parkir mobil. Halaman belakang lumayan luas untuk bercocok tanam atau membangun dua kamar lagi. Daripada ia dan istri terus mengontrak, lebih baik memiliki rumah sendiri.
Hal senada disampaikan Clavarita Lette, dan Elisa Yulianti yang ditemui secara terpisah. Claravita mengatakan, proses mendapatkan rumah FLPP di Alak, belakang TNI Angkatan Laut (AL) ini cukup cepat karena marketing PT Charson Timorland milik Bobby Pitoby sangat baik memberikan pelayanan.
Claravita mengatakan, ketika proses finishing di Bank BTN selalu didampingi oleh staf marketing perusahaan ini. Ketika mengalami kesulitan, staf marketing yang memberi penjelasan atau melengkapi berkas yang belum ada.
Claravita yang akrab dipanggil Rita merasa aman karena sudah menghuni rumahnya sejak 1 Juli 2015. Karyawan pada sebuah perusahaan swasta di Kota Kupang ini mengatakan, dengan memiliki rumah ia tak lagi bepikir untuk kos. Yang membanggakan, tutur Claravita, adalah perumahan ini berada di tengah kota sehingga memudahkannya untuk bepergian ke mana saja. Apalagi, perjalanan dari Alak ke Kupang tanpa 'dihalangi' lampu pengatur lalulintas sehingga lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Di sana, lanjutnya, developer menyiapkan fasilitas air, listrik dan kenyamanan untuk tinggal.
Sedangkan Elisa Yulianti, perempuan asal Purwokerto, Jawa Tengah mengatakan, sudah tujuh tahun tinggal di Kota Kupang. Ia baru menempati Kompleks Perumahan FLPP milik developer Fredy Lay di Blok Anggrek, Belo atau sebelah barat Perumahan Lopo Indah Kolhua Kupang.
Pegawai Balai Diklat Kehutanan Airnona Kupang ini bercerita, sebelum menempati perumahan itu, ia mengontrak di Perumahan Kolhua. Meski tinggal di perumahan itu, hampir tiap tahun pindah tempat dengan berbagai alasan. Suatu ketika, Elisa bercerita, ia mendengar kabar tentang fasilitas perumahan murah oleh pemerintah. Ia kemudian mendatangi langsung PT Lopo Indah Permai untuk mendaftarkan diri.
Elisa tak kesulitan mendapatkan rumah ini, namun persyaratan yang cukup banyak itu membuat ia ekstra melengkapi. Salah satunya, kata Elisa, yakni surat keterangan dari kelurahan yang menyebutkan bahwa belum punya rumah dan belum menikah.
Meski demikian, Elisa yang sudah bersuami ini mengatakan senang karena sudah memiliki rumah. Ia lebih tenang karena tak pindah-pindah rumah kos lagi. Meski Nyoman, Rita dan Elisa merasa gembira, beberapa warga penghuni perumahan mengharapkan developer tetap memerhatikan kebutuhan sosial di perumahan seperti tempat bermain anak-anak, ruang rekreasi dan fasilitas lainnya. (yen/pol)