Satu Pensil Dibagi 3 untuk Murid SDN Oefafi Kupang

Ada sejumlah masalah kemanusiaan yang dihadapi para murid SDN Oefafi,Kabupaten Kupang.Mereka minim alat tulis menulis saat proses belajar mengajar.

POS-KUPANG.COM, KUPANG - NAMA Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oefafi di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang-NTT, naik daun setelah muncul kasus guru honor Adi Meliyati Tamone yang dipecat oleh kasek Daniel Oktovianus Sinlae, setelah meminta gajinya selama dua tahun yang belum dibayar sekolah.

Ternyata dari kasus ini, ada sejumlah masalah kemanusiaan lain yang dihadapi para guru dan murid di sekolah selama beberapa tahun terakhir ini. Berikut ulasannya disampaikan oleh wartawan Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo.

AWAL Tahun 2000 lalu, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oefafi yang berada di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, sempat menjadi sekolah contoh bagi SD lainnya di wilayah itu. Bagaimana tidak, fasilitas dan sarana prasarana yang ada di sekolah itu terjamin dengan masuknya program PLAN.

Fisik sekolah yang reot dirubah menjadi bangunan permanen dengan sejumlah ruang belajar, papan tulis white board, meja kursi yang bagus, hingga kamar mandi yang bersih dan tersedianya air bersih yang melimpah disekolah itu.

Karenanya tak mengherankan meski sekolah itu letaknya jauh sekitar 4-5 km dari rumah penduduk, namun tak sedikit orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya disana. Meski harus melewati ruas jalan yang sempit dan licin jika musim hujan, harus menyeberang kali (sungai) Nonomnanu, yang airnya bisa hampir setinggi paha jika musim hujan dan banjir namun hal itu tak dihiraukan siswa/i sekolah itu.

Namun kini di tahun 2016, ‘predikat sekolah mewah’ untuk SDN Oefafi itu sudah tidak ada lagi. Saat Pos Kupang mendatangi sekolah itu, Senin (7/3/2016) siang, sejumlah fasilitas dan sarana prasarana di sekolah itu terlihat sudah mulai rusak.

Kamar mandinya hampir tidak bisa berfungsi lagi, ruang kelas pun kotor, ada sebagian kaca ruang kelas yang pecah. Ruang kelas nampak kotor dan tidak terurus. Pagar tembok sekolah itu juga sudah rusak, lubang di sejumlah tempat.

Sebelumnya, saat Pos Kupang berpapasan dengan sejumlah siswa/i yang baru pulang sekolah, para murid menyapa dengan ramah.” Tanpa dikomando, mereka serentak membungkukkan badan dan kepalanya dan mengatakan, ‘selamat siang’, kemudian mengangkat kembali kepalanya dan tersenyum.

Pakaian seragam merah putih yang dikenakan sebagian siswa nampak sudah kusam, bahkan seragam baju putihnya terlihat sudah berwarna kuning kecoklatan, namun tak dihiraukan mereka.

Banyak diantara murid yang jalan lenggang tanpa mengenakan tas. Bahkan hanya sedikit saja murid yang membawa buku tipis di tangannya plus sebuah pensil yang kondisinya sudah sangat pendek.

Bahkan tidak sedikit murid yang bertelanjang kaki alias tidak memakai sepatu atau sendal. Berkaki kosong, setiap hari Senin hingga Sabtu melewati berkilo-kilo ruas jalan dari rumah ke sekolahnya, melewati kali,,, untuk sebuah mendapatkan ilmu pengetahuan. Suatu pengorbanan yang tak bisa dibilang mudah untuk dilakukan oleh anak-anak yang baru berusia 7 hingga 12 tahun itu.
“Kali (sungai, red) banjir kah?” tanya saya kepada mereka. “Tidak ibu,” kata mereka sopan sambil terus berjalan kaki.
Sepulangnya dari sekolah itu, Pos Kupang menjumpai sekitar 5 anak-anak yang sedang bermain di kali.... . Mereka yang tidak lagi mengenakan seragam sekolah itu mengaku sebagai murid SDN Oefafi dan murid SMP. “Pulang sekolah kami main disini,” kata salah seorang anak.

Kondisi itu adalah sebagian potret kehidupan nyata dari murid-murid SD yang berada di wilayah terpencil. Minim akses transportasi dan jalan raya yang memadai, dan kondisi ekonomi keluarga yang masih memrihatinkan.

Adi Meliyati Tameno (39) dan Orpa, guru di SDN Oefafi, membenarkan kondisi siswa dan sekolah itu. “Tahun 2000-an lalu, sekolah ini jadi sekolah contoh. Karena gedungnya direhab plan dan bagus sekali kondisinya. Tapi sekarang banyak yang sudah rusak karena tidak maksimal dirawat,” kata Orpa ditemui di depan sekolah itu.

Hal senada disampaikan Meliyati bahwa seringkali guru kekurangan spidol untuk mengajar di kelas. Dalam kegiatan sehari-hari, demikian Meliyati, banyak sekolah murid yang tidak membawa buku tulis, pensil dan polpen karena memang tidak punya karena kondisi perekonomian keluarga di wilayah itu sangat minim. Hal ini membuat proses belajar mengajar di sekolah tidak berjalan maksimal.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved