Orang Tua Ini Tidak Tahu Anaknya yang Masih Sekolah Dijual Rp 400 Ribu ke Pria Hidung Belang

Mereka yang kemarin mendampingi anak-anaknya di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pun meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

Orang Tua Ini Tidak Tahu Anaknya yang Masih Sekolah Dijual Rp 400 Ribu ke Pria Hidung Belang
Tribun Pontianak/Galih Nofrio Nanda
Ilustrasi/korban prostitusi anak diperiksa polisi 

POS KUPANG.COM, JAKARTA -- Para orangtua perempuan anak baru gede (ABG) yang menjadi korban prostitusi di warung kopi Thorik di Jagakarsa, Jakarta Selatan, shock berat.

Mereka yang kemarin mendampingi anak-anaknya di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pun meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

Kapolsektro Jagakarsa Kompol Sri Bhayakari mengatakan, 15 perempuan ABG yang menjadi anak buah muncikari Thorik itu rata-rata masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Mereka saat ini (kemarin,-red) sedang menjalani pemeriksaan psikologinya di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Sebab, kata Sri, dikhawatirkan jika para ABG itu mengidap penyakit akibat terjun di dunia prostitusi.

"Saat kami periksa, para orangtua mereka terkejut dan mengaku tak tahu peristiwa yang menimpa anaknya. Para orangtua mengetahui anaknya menjadi korban prostitusi setelah mendampingi menjalani pemeriksaan di PPT RS Polri," ujarnya kepada wartawan di Mapolsektro Jagakarsa, Jumat (11/3).

Sri menambahkan, para orangtua tak tahu anaknya terlibat prostitusi lantaran mereka tinggal dari luar Jagakarsa. Saat tahu anaknya dieksploitasi muncikari Thorik, mereka marah dan meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya. "Orangtua pasti meminta pelaku dihukum berat. Tapi kami imbau juga agar para orangtua selalu memonitor anaknya agar tidak terjadi hal serupa," ungkapnya.

Dicicipi dulu
Sebelum menawarkan anak buahnya ke orang lain, Thorik lebih dulu mencicipi atau melakukan pelecehan terhadap remaja yang menjadi korbannya. "Sembilan anak sudah digauli pelaku, dan sekitar 15 orang anak sudah dijual pelaku," kata Sri.

Menurut Sri, pihaknya akan mendalami apakah Thorik mengalami penyimpangan seksual atau tidak. Sebab, perempuan yang menjadi korbannya rata-rata berusia 15-16 tahun atau di bawah umur. "Saya belum bisa menyatakan itu, nanti dokter yang bicara," ujarnya.

Tidak tahu
Warta Kota petang kemarin mendatangi PPT RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Namun, petugas RS setempat mengaku tak tahu-menahu soal itu. "Saya enggak tahu sama sekali. Maaf apa sudah ada izin sebelumnya. Lagi pula jam besuk sudah habis. Maaf ya," ucap salah seorang perempuan yang bertugas di Lobi PPT RS Polri, Jumat (11/3).

Pantauan Warta Kota, di dua ruangan PPT RS Polri terbilang ramai oleh pasien yang tengah menjalani rawat inap ini terlihat banyak pembesuk yang sedang menjaga anggota keluarganya.

Tak tampak satupun perempuan ABG ataupun pembesuk yang ingin mencari 15 ABG dari Jagakarsa itu. Tak hanya itu, petugas PPT yang juga menjaga di ruangan yang berbeda menuturkan hal yang sama. "Maaf bapak, saya tidak tahu soal itu, namun harus izin dulu. Maaf jam besuk juga sudah habis," kata perempuan berseragam putih yang enggan menyebut identitasnya.

Sementara itu, Kepala Humas RS Polri AKBP Kristianingsih saat dihubungi ponselnya tidak aktif. Bahkan tak merespon saat dihubungi melalui pesan singkat (SMS). (bin/bas/Warta Kota)

Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com  atau http://kupang.tribunnews.com

Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang

Editor: Alfred Dama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved