Natalia Watu Suka Musik
Tanpa pengaruh seorang guru, bukan mustahil jika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju seperti saat ini tidak akan pernah dinikma
POS KUPANG.COM -- "Seorang guru mempengaruhi keabadian, ia tidak pernah bisa mengungkapkan di mana pengaruhnya berhenti." Ungkapan klasik ini setidaknya bisa mewakili jasa para pendidik sejak dahulu hingga saat ini.
Tanpa pengaruh seorang guru, bukan mustahil jika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju seperti saat ini tidak akan pernah dinikmati oleh manusia.
"Setiap mimpi berawal dari seorang guru yang mempercayai muridnya, menarik dan mendorong serta membawa ke dataran tinggi. Kadang akan menusuk muridnya dengan tombak tajam bernama kebenaran. Lewat mengajar bisa menciptakan semua profesi dan itu hanya bisa dilakukan oleh guru," demikian Natalia Watu (23), mahasiswi FKIP Program Studi Sendratasik, Jurusan Bahasa dan Seni, Universitas Widya Mandira Kupang.
Natalia, demikian sapaan akrabnya, tatkala berbincang dengan Pos Kupang di SMPK St. Yoseph Naikoten Kupang, Sabtu (6/2/2016), mengatakan, menjadi seorang guru adalah dambaannya sejak kecil.
Pasalnya, guru bukan sekadar profesi untuk menyambung hidup tetapi mencerdaskan generasi muda bangsa. "Jika memiliki pengetahuan, biarkan orang lain menerangi lilin mereka pada pengetahuanmu. Hal itu sudah tertanam sejak dulu ketika saya memilih masuk FKIP, Jurusan Bahasa dan Seni. Sebenarnya dulu saya tes STPDN tapi gagal," tutur dara kelahiran Aimere, Kabupaten Ngada pada 27 Juli 1993.
Mahasiswi semester VIII yang sementara menjalankan praktek pengalaman lapagangan (PPL) menceritakan pengalamannya saat hadir di tengah murid SMPK St. Yoseph Naikoten Kupang. Lewat program PPL, Natalia, bersama para mahasiswa Unwira lainnya mempraktekkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.
"Teori dan praktek di kampus itu ada, namanya mata kuliah micro teaching. Di situ kita belajar bagaimana menghadapi siswa. Tapi karena baru, awalnya saya sedikit gugup saat berinteraksi dengan anak di sekolah. Syukurlah sekarang sudah terbiasa," ujar Natalia, yang memiliki motto, 'kehidupan bisa mati, tapi seni tidak bisa mati'.
Lahir dari keluarga yang hobi musik adalah alasan bagi alumna SMA Negeri I Aimere, Ngada ini memilih FKIP Sendratasik, Jurusan Bahasa dan Seni Unwira Kupang sebagai tempat menempa ilmu. "Kebetulan bapak saya mahir bermain musik, terutama musik lagu rohani," katanya. (jet)
Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com atau http://kupang.tribunnews.com
Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/natalia-watu_20160306_233655.jpg)