Ancam Bunuh Trump, Mahasiswa Mesir Bakal Dideportasi

"Itu adalah hal bodoh untuk dilakukan mengingat (atmosfer) di negara ini sekarang," kata Bushra. "Itu hanya respon marah," tambahnya

Editor: Marsel Ali
Shutterstock/Guardian
Donald Trump. 

POS KUPANG.COM, LOS ANGELES - Emadelin Elsayed (23), mahasiswa Mesir yang tengah mengikuti sekolah penerbangan di California, Amerika Serikat, terancam dideportasi.

Hal itu karena ia telah menulis ancaman di laman Facebook ingin membunuh Donald Trump.

Hani Bushra, pengAcara Elsayed, mengatakan hal itu Kamis (4/3). Agence France-Presse melaporkan, Elsayed ditangkap agen federal pada 12 Februari lalu di area sekolah penerbangan di Los Angeles.

Otoritas keamanan mengatakan, penangkapan terjadi tak lama setelah Elsayed mem-posting pesan ancaman terhadap kadidat calon presiden dari Partai Republik itu.

"Saya ingin membunuh Donald Trump dan menjalani hukuman seumur hidup. Seluruh dunia akan berterima kasih kepadaku karena melakukan itu," tulis Elsayed di halaman Facebook-nya, seperti disampaikan oleh Bushra.

Meskipun pihak berwenang tidak mengajukan tuntutan pidana terhadap Elsayed, hakim imigrasi awal pekan ini memerintahkan dia dideportasi. Alasannya, sekolah penerbangan telah membatalkan pendaftarnnya. Visa pelajar miliknya pun sudah tidak berlaku lagi.

Hakim Los Angeles juga menolak untuk membebaskan Elsayed meski dengan jaminan. Sebab sebelumnya jaksa berpendapat, pemuda asal Mesir itu bisa menimbulkan risiko penerbangan.

Bushra mengatakan, meskipun kliennya telah menunjukkan penilaian buruk dalam pesannya di Facebook, Elsayed tidak dimaksudkan mau menyakiti Trump. Kliennya juga telah menyesali perbuatannya.

"Dia hanya seorang anak yang melakukan sesuatu yang bodoh," kata Bushra.

"Ini lebih sebagai retorika marah mirip retorika yang bahkan mungkin pernah digunakan Donald Trump sendiri ketika ia mengatakan hal-hal seperti 'kita akan membunuh anggota keluarga teroris, anak-anak mereka, dan istri-istri mereka'," kata Bushra lagi.

"Saya tidak berpikir (pesan) itu benar-benar berpengaruh. Saya tidak berpikir klien saya akan melakukan apa yang telah dia katakan."

Bushra mengatakan pesan Elsayed di Facebook itu adalah untuk menanggapi retorika anti-Muslim Trump. Sebuah artikel tentang retorika Trump dilampirkan dalam pesan Elsayed.

"Itu adalah hal bodoh untuk dilakukan mengingat (atmosfer) di negara ini sekarang," kata Bushra. "Itu hanya respon marah," tambahnya.

Menurut Bushra, sidang terkait proses deportasi dijadwalkan pada Jumat (4/3) ini. Sampai pada titik ini, semua keinginan kliennya adalah agar ia diberi waktu untuk menyelesaikan semua urusannya sebelum meninggalkan AS.

"Ia telah membayar uang kuliah 41.000 dollar AS. Ia ingin ada semacam penangguhan hukuman untuk mengurus barang-barang miliknya dan menjual mobilnya,"kata Bushra.

Termasuk menyelesaikan urusan dengan sekolah agar Elsayed mendapatkan kembali biaya yang telah diserahkan ke sekolah. "Setelah itu barulah ia meninggalkan negara ini," kata Bushra lagi. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved