Minggu, 19 April 2026

Pengiriman Imigran Gelap Jadi Lahan Bisnis Menggiurkan

Besarnya uang yang harus disetor para imigran gelap kepada sindikat untuk diberangkatkan ke negara lain menjadi lahan bisnis yang menggiurkan para okn

Penulis: alwy | Editor: Alfred Dama
Rei Mila for Kompas.com
Sebanyak 65 imigran yang terdampar di Kabupaten Rote Ndao, saat ditampung di Hotel Ina Boi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (2/6/2015) 

Laporan Wartawan Pos Kupang Muhlis Al Alawi

POSKUPANG.COM, KUPANG -- Besarnya uang yang harus disetor para imigran gelap kepada sindikat untuk diberangkatkan ke negara lain menjadi lahan bisnis yang menggiurkan para oknum.

Kondisi itu bisa terlihat terus-menerusnya para imigran gelap yang ditemukan terdampar hingga tertangkap di NTT.

"Sepertinya imigran gelap menjadi lahan bisnis oknum tertentu. Kondisi itu bisa terlihat terus menerusnya para imigran gelap yang terdampar dan tertangkap di NTT. Berarti ada sengaja yang merawat," ujar anggota Komisi I DPRD NTT, Dolvianus Kolo kepada Pos Kupang di gedung DPRD NTT, Senin (29/2/2016).

Ia mengatakan bila dilakukan upaya pembiaran maka sampai kapanpun imigran gelap akan ada di NTT. Pembiaran itu terjadi lantaran adanya ulah oknum yang dengan sadar dan mau menyeberangkan para imigran gelap tersebut.

Padahal, lanjut Dolvi, kondisi dan fakta riilnya itu pintu-pintu keluar masuk para imigran dijaga pihak imigrasi maupun kepolisian, syahbandar. Tetapi imgran gelap sepertinya tidak pernah habis-habis jalur penyeberangnnya. "Berarti kan ada upaya sadar dan mau. Lebih kasarnya ada merawat pengiriman imigran gelap agar tetap bisa menjadi pundi-pundi pihak memanfaatkan kondisi tersebut," jelas Dolvi.

"Pintu, udara, darat dan laut dijaga ketat. Kalau sampai mereka dari Timor Tengah maka pintu masuknya dari Jakarta dan Surabaya. Kalau bisa sampai NTT melalui jalur mana. Sepertinya, ada upaya sadar dari oknum tertentu menyeberangkan para imigran gelap ini. Untuk itu butuh keterlibatan semua pihak untuk mengatasinya," tandas Dolvi.

Dolvi menuturkan kunci menahan laju pengiriman imigran gelap itu pada penertiban. Tak hanya itu, semua pihak terkait agar disiplin dan tegas menegakkan aturan yang ada. "Kalau semua itu dilakukan maka persoalan imigran gelap berlahan-lahan akan selesai," kata Dolvi.

Selain itu, lanjut Dolvi, semestinya ada batasan-batasan para imigran yang ditampung di Rudenim dan hotel-hotel bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Tetapi kesannya mereka bebas berkeliaran keluar sepertinya bukan orang yang sementara diamankan dan dalam pengawasan.

Ia mendapatkan laporan oknum imigran gelap berhubungan badan dengan warga lokal. Dan kondisi sulit diterima akal sehat. Apalagi mereka berada di ruang penampungan di hotel atau Rudenim. "Kami mendapatkan informasi ada anak hasil perkawinan warga lokal dengan imigran gelap yang berada di penampungan yang diadukan di Komisi I DPRD NTT," demikian Dolvi. *

Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com  atau http://kupang.tribunnews.com

Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved