Lipsus LGBT
Lesbian Juga Manusia
Mengenai hak lesbian, Ketua Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) Lesbian Biseksual Transgender (LBT) Female to Male di Kupang, Charly mengatakan, lesbi
POS KUPANG.COM, ENDE -- Mengenai hak lesbian, Ketua Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) Lesbian Biseksual Transgender (LBT) Female to Male di Kupang, Charly mengatakan, lesbian juga butuh pengakuan dari masyarakat dan negara. Lesbian punya hak yang sama dengan warga heteroseksual lain.
"Ada sejumlah teman dikeluarkan dari pekerjaannya karena ketahuan dia lesbian. Hal ini harusnya tidak terjadi karena lesbian juga manusia dan punya hak untuk bekerja," kata Charly.
Karena alasan itulah, kata dia, kaum lesbian belum berani tampil sebagaimana waria. "Waria yang sudah lebih dahulu berani mengaktualisasikan diri saja sampai sekarang masih dapat diskriminasi dari masyarakat dan negara, sehingga lesbian
masih sangsi menunjukkan jati dirinya," kata Charly.
Menurut Charly, tindak kekerasan terhadap lesbian itu tidak hanya terjadi di luar rumah.
"Banyak lesbian yang dipaksa dan akhirnya terpaksa menikah dengan pria. Padahal lesbian tidak memiliki perasaan dengan pria. Akibatnya, setiap kali berhubungan suami istri, para lesbian merasa seperti diperkosa. Inilah keluhan yang disampaikan sejumlah teman saat berkumpul dan berdiskusi," kata Charly.
Menurutu Charly, ratusan lesbian yang berada pada 20 titik di Kupang rutin berkumpul untuk diskusi, nonton bareng film motivasi, berbagi pengalaman dan saling menguatkan.
"Untuk sekarang, kegiatan kami masih sebatas penguatan intern bagaimana kami bisa lebih dulu menyadari keberadaan, bisa tahu dan pahan tentang LGBT, sehingga bisa siap menghadapi berbagai tantangan bahkan akhirnya mau dan bisa membuka diri kepada masyarakat," kata Charly.
Menurut Charly, sama seperti waria, gay dan biseksual atau trangendser, lesbian juga tidak menuntut diperlakukan secara istimewa oleh masyarakat dan negara.
"Kami, lesbian, LGBT hanya minta tolong, akuilah hak dan keberadaan kami, lihat kemampuan kami dan berdayakanlah kami. Kami ini ada, jangan anggap kami tidak ada dan jangan lagi mendiskriminasikan kami," harap Charly.
Hal senada disampaikan Ketua Komunitas Independen Man of Flobamora (Imof) Kupang, Ridho, mewakili sekitar 150-an gay di Kupang. Para gay juga masih sebatas berkumpul secara intern untuk menguatkan kapasitas anggota.
Menurut Ridho, banyak gay yang terpaksa menikahi perempuan karena paksaan dan ingin menyenangkan orangtua. Akhirnya mereka hidup dalam kepura-puraan dan tersiksa setiap waktu.
"Harapan kaum gay sangat sederhana. Masyarakat tolong pahami orientasi seksual kami. LGBT bukan penyakit. Kami tidak sakit. Terima dan akui kami ini ada, manusiakan kami selayaknya manusia dan warga negara," kata Ridho yang berharap agar di Kupang dan di NTT tidak ada kekerasan dan diskriminasi yang mengatasnamakan agama atau kelompok tertentu untuk memojokkan dan menyerang HAM dari kaum LGBT.
Menurut Ridho, jika tidak memahami LGBT dengan baik jangan langsung menilai dan menghakimi LGBT. Agama jangan dijadikan tameng dari cara berpikir yang salah kemudian menghalalkan kekerasan terhadap LGBT. "Agama dan dosa itu urusan vertikal manusia dengan Tuhannya," kata Ridho. (vel)
Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com atau http://kupang.tribunnews.com
Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang