Imlek 2567
Tradisi Memberikan Angpao
Niti Susanto mengatakan, pemberian angpao adalah tradisi bagi anak-anak yang merantau di tempat yang jauh dan berhasil. Pada perayaan Imlek, mereka
POS KUPANG.COM -- Niti Susanto mengatakan, pemberian angpao adalah tradisi bagi anak-anak yang merantau di tempat yang jauh dan berhasil. Pada perayaan Imlek, mereka pulang untuk berkumpul dengan orangtua dan keluarga.
Momen tersebut dipakai untuk memberikan angpao, sebagai wujud membagi berkat atau rezeki yang diterima kepada orangtua (ayah dan ibu) atau kakak dan adiknya. Biasanya angpao diberikan dalam bentuk uang yang disimpan di dalam amplop berwarna merah.
Jika saat memberikan angpao, ada yang tidak menerima, sebenarnya tidak ada pengaruhnya. "Secara manusiawi, jika saya memberikan berkat yang saya terima kepada mama atau ayah saya, masa mereka tidak menerima," ujar Niti.
Menurutnya, angpao adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan melalui cara berbagi berkat dan kasih dalam bentuk uang yang disimpan di dalam amplop merah kepada orang lain.
Ia mengatakan, saat ini sudah lebih modern dimana angpao tidak saja diberikan oleh anak kepada orangtua atau orangtua kepada anak, ponakan dan cucu, tetapi juga dimanfaatkan untuk menarik pelanggan.
"Misalnya, di toko-toko sudah dipromosikan untuk membeli sekian produk dan mendapatkan angpao. Memberi angpao dalam usaha juga baik karena rejeki yang didapatkan bisa dibagi kembali pada orang yang berbelanja di tokonya. Tidak masalah, ini wujud berterima kaish kepada Tuhan, karena usaha baik sepanjang tahun dan keluarga sehat-sehat," katanya. Ia berharap, Imlek tahun 2016 membawa masyarakat NTT pada umumnya menjadi lebih baik dan sejahtera.
Pengusaha muda, Boby Liyanto mengatakan, ada tradisi memberkati melalui angpao agar panjang umur, sehat selalu, dan memberikan angpao di amplop merah.
Hal yang sama disampaikan David Fulbertus. Ia mengatakan, kebiasaan lain pada saat Imlek membagi angpao. Angpao diberikan oleh orang yang sudah berkeluarga kepada anak-anak, keponakan, anak dari teman dan sebagainya. Nilai atau besaran uangnya terserah mau diberi berapa.
Generasi seperti dia menilai ini menjadi budaya, tetapi tidak percaya lagi akan pantangan saat Imlek. Untuk tradisi sudah lebih Indonesia, apalagi sudah beragama semua. Biasanya hanya mengunjungi kuburan leluhur di Pekuburan China Namosain untuk pasang lilin, berdoa dan siram rampai.
Devi Dwi Dutavire, S.Pd.K, mengatakan, saat Imlek ada tradisi bagi angpao kepada anak-anak. "Angpao bukan syarat utama, tapi membagi berkat dengan keponakan atau sepupu yang belum bekerja," ujarnya. (nia)
Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com atau http://kupang.tribunnews.com
Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/imlek-klenteng_20160207_141152.jpg)