Masukan Dalam Kurikulum, Musik Suling Gendang Lela Terancam Punah
Wilibordus Manukera, warga Desa Lela, Kecamatan Lela yang kini masih eksis mempertahankan musik suling gendang
Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso
Laporan Wartawan Pos Kupang, Aris Ninu
POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Wilibordus Manukera, warga Desa Lela, Kecamatan Lela yang kini masih eksis mempertahankan musik suling gendang di Lela mengaku prihatin.
Wilibordus prihatin lantaran musik tradisional kebanggaan dan warisan leluhur mau punah di kalangan anak muda di daerah itu.
Bahkan ia mengaku musik suling gendang kalah bersaing dengan musik modern yang sekarang lagunya disco dan dangdut.
Jika ada acara pesta nikah, sambut baru dan acara syukuran musik modern mendominasi di tenda acara.
Saat pesta, kata Wilibordus, musik kampung saat pesta hilang dan tidak pernah ada lagi.
Wilibordus, yang ditemui di Lela saat acara wisuda Akper Sta.Elisabeth Lela, Sabtu (24/10/2015) siang, menjelaskan, musik suling gendang belakangan ini hanya diminati oleh kaum tua. Sedangkan generasi muda mulai enggan dan tidak menyukai musik kampung.
Ditemui bersama rekannya Gaudensius Miksentus dan Basilius Dionisius, Wilibordus mengatakan, grup musiknya bernama Suka Maju.
Nama itu memilikki makna kalau pihaknya ingin tetap eksis di Lela guna memajukan dan memperkenalkan musik suling gendang kepada generasi muda di Lela.
"Musik kami menggunakan gendang yang dibuat dari kulit kambing dan suling dari bambu yang kami cari di hutan. Kami di grup ada 10 orang. Yang main gendang 3 orang, pukul 2 dan 5 orang main suling.Kenapa kami yang tua-tua saja yang menyukai musik ini karena tidak ada anak muda yang berminat," ujarnya.
"Kenapa kami minta karena musik ini harus tetap ada. Generasi muda harus mencintai musik ini dan harus belajar. Bagaimana mereka tahu kalau pemerintah tidak masukkan dalam kurikulum lokal di sekolah," ujar Gaudensius.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/musik-suling-gendang-lela-terancam-punah_20151028_113559.jpg)