Opini

Makna Sidang Sinode GMIT di Rote

Pada tanggal 20 September - 2 Oktober 2015, berlangsung Sidang Raya Sinode GMIT di Ba'a, Kabupaten Rote Ndao. Kenapa di Rote Ndao?

TULISAN ini merupakan salah satu "suara jemaat" yang ditujukan kepada para pemberi "suara gembala" peserta Sidang Raya Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) XXXIII yang berlangsung dari 20 September -2 Oktober 2015 di Rote Ndao. Sidang Sinode GMIT ini merupakan forum tertinggi dalam pengambilan keputusan pelayanan di tubuh GMIT sesuai prinsip ecclesia reformata semper reformanda (Gereja yang sejati adalah Gereja yang senantiasa memperbaharui diri), termasuk memilih para pemimpin GMIT untuk empat tahun masa kerja ke depan dengan mengangkat tema: "Yesus Kristus adalah Tuhan" (Filipi 2: 11). Sedangkan sub-tema: "Berdasarkan Kristus, Kita Bertolong-tolongan Menanggung Beban Kehidupan Sebagai Sesama Anggota Gereja, Masyarakat, Bangsa dan Negara".

Makna pertama yang didapat dari tema ini adalah angka 33 yang bagi banyak kalangan Kristiani sudah merupakan angka keramat, karena Yesus mati pada usia 33 tahun. Selanjutnya, makna kedua menyangkut pemilihan Rote sebagai tempat sidang tidak terlepas dari peran strategis daerah ini dalam sejarah perkembangan Gereja di kawasan NTT dalam konteks sejarah maupun kontemporer. Kisah tentang tiga Raja Rote yang pergi ke Batavia untuk belajar tentang kekristenan dan kemudian membawa terang itu kembali ke tanah Rote pada abad 17 menjadi momentum awal perkembangan dan penyebaran Kristen. Akibatnya, Sidang Sinode XXXIII bisa merupakan sebuah tapak tilas sejarah untuk mengingatkan kembali tentang proses panjang perjalanan Gereja yang dapat memberikan semangat bagi persidangan kali ini untuk mengahasilkan keputusan-keputusan penting bagi masa depan GMIT dan terpenting peran GMIT bagi kehidupan jemaatnya.

Sejarah Singkat
Dalam buku "Rote Mengajar Punya Cerita" (ISBN: 978-979-24-6839-7) yang ditulis oleh penulis dan seniornya Drs. Leonard Haning, MM (Henuk dan Haning, 2015), terbaca jelas bahwa berkembangnya agama Kristen Protestan khususnya Jemaat GMIT di NTT pada masa VOC diawali dari dua titik, yaitu: titik utara, mulai dari Benteng Fort Concordia (Kupang), dan titik Selatan, mulai dari Fiulain (Rote). Dari titik utara (Kupang), penyebaran ajaran agama sudah dimulai sejak tahun 1614 dan lebih banyak ditangani oleh para pendeta, namun penyebaran ajaran agama pada masa VOC itu sangat lambat. Hal ini disebabkan karena penyebaran ajaran agama kepada masyarakat umum belum mendapat perhatian yang serius. Penyebaran agama masih terbatas pada para pegawai VOC saja. Apalagi agama baru ini dibawa oleh orang asing serta selalu meninggalnya para pendeta. Sebaliknya, di titik Selatan (Fiulain/Rote) sejak tahun 1732, barulah Foeh Mbura memperkenalkan Injil secara massal kepada masyarakat umum di Fiulain, Dusun Danoheo, Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao.

Sejarah mencatat bahwa Fiulain, periode nusak, pada era pemerintahan Raja Foe Mbura adalah pusat pemerintahan Kerajaan Thie. Sebagai pusat kerajaan kala itu, Fiulain sangat terkenal baik oleh nusak yang lainnya di Rote hingga oleh Belanda dikarenakan tempat ini pada tahun 1732 merupakan tempat pertama dimana Agama Kristen Protestan dan Pendidikan diperkenalkan di Rote. "Bibit" persemaian yang ditanam di sinilah yang kemudian berhasil menyebar ke seluruh nusak yang ada di Rote baik itu dalam hal penyebaran Agama Kristen Protestan maupun penyebaran pendidikan persekolahan. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah di NTT.

Sejarah mencatat bahwa penyebaran Injil atau Alkitab masuk di wilayah NTT berasal dari Rote Ndao pada tahun 1740 berdasarkan pada surat dari majelis jemaat di Batavia kepada majelis jemaat di Roterdam tertanggal 26 Februari 1740 dan dipelopori oleh tiga raja, yakni Raja Thi'e (Foeh Mbura), Raja Lole (Ndi'i Hu'a), dan Raja Ba'a (Tou Dengga Lilo) tanpa menyebut Raja Lelain (Ndara Naong).

Dengan demikian, sudah 275 tahun Injil masuk di Rote Ndao lalu menyebar ke wilayah lain di Indonesia. Akibatnya, semua peserta Sidang Sinode ke-33 tentu wajib memanfaatkan kesempatan selama berada di Rote Ndao untuk mengadakan semacam "wisata rohani" guna mengunjungi lokasi pusat penyebaran agama Kristen Prostetan dan pusat pendidikan pertama di Rote Ndao di Fiulain.

Makna Sidang Sinode GMIT
Dalam membahas topik menarik ini, penulis yang telah dikenal umum sebagai 'To'o' YLH sengaja mengajak para pembaca, khususnya para pendeta untuk membaca kembali pustaka kuno "The Problem of Poverty" yang ditulis oleh teolog Calvinis dari Belanda, Dr Abraham Kuyper (1837 -1920).

Walaupun isi buku ini disampaikan dalam konteks Eropa dan juga sudah tergolong kadaluwarsa jika dikaitkan dengan era kekinian dalam kaitan dengan peran Gereja dalam mengatasi kemiskinan, tetapi masih relevan sekali digunakan sebagai pustaka pembanding mengingat kemiskinan adalah masalah universal yang terbukti belum ditangani dengan begitu serius hingga kini di banyak negara.

Menurut Kuyper, Gereja telah terlalu lamban dalam bertindak dan bahkan telah ketinggalan dalam menghadapi kemiskinan jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga sosial di luar gereja.

"Kita juga merasa tercoreng, karena di hadapan sekian banyak tangisan orang yang membutuhkan uluran tangan, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa," tulis Abraham Kuyper, pembaharu politik Kristen modern yang pernah menjadi Perdana Menteri Belanda (1900 -1905).

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved