Tamu Kita

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi

Diundang berbicara tentang penanganan para korban kasus kekerasan seksual dan KDRT, Andriyani Emilia Lay, S.Psi begitu bersemangat.

PK/VEL
Andriyani Emilia Lay, S.Psi, Psikolog. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Diundang berbicara di depan puluhan paralegal LBH APIK NTT terkait penanganan para korban kasus kekerasan seksual dan KDRT, Andriyani Emilia Lay, S.Psi begitu bersemangat.

Wanita ini begitu menjiwai profesinya sebagai psikolog sehingga penjelasannya mudah dipahami audiens. Usai diskusi, Andri membicarakan berbagai hal mulai dari bentuk kekerasan seksual, penanganan terhadap pelaku dan korban kekerasan seksual, trik mewawancarai pelaku dan korban hingga tanda terjadinya kekerasan seksual serta upaya pencegahan guna meminimalisir kasus kekerasan seksual.

Berikut wawancara eksklusif wartawati Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo dengan Andriyani.

Akhir-akhir ini di Kupang dan NTT banyak sekali terjadi kasus pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak. Apa maksud dari kekerasan seksual terhadap anak? Siapa saja yang bisa menjadi pelakunya?

Pelecehan atau kekerasan seksual merupakan kekerasan yang terjadi pada anak aktivitas atau kontak seksual secara fisik maupun non-fisik yang melibatkan anak atau remaja dengan orang dewasa atau dengan anak/remaja lain yang tubuhnya lebih besar, lebih kuat atau punya kemampuan berpikir lebih baik atau oleh anak/remaja lain yang usianya lebih tua di atas 3 tahun.

Jadi pelakunya bisa orang yang sudah dewasa dan cukup umur atau bisa saja seorang anak/remaja. Jenis kontak seksual ini bisa mengganggu kondisi fisik dan kondisi psikis (mental) si korban. Bentuk kekerasan seksual itu bisa bermacam-macam.

Apa saja bentuk dari kekerasan seksual?

Bisa kontak fisik atau kontak non-fisik. Kontak fisik misalnya pelaku memegang, merasa dan mengelus organ vital anak seperti kelamin, pantat, dada atau payudara. Atau pelaku memasukkan bagian tubuhnya atau benda lain ke mulut, anus atau kelamin anak.

Atau pelaku memaksa anak memegang bagian tubuhnya sendiri, bagian tubuh pelaku atau bagian tubuh anak lain. Kontak non-fisik seperti pelaku mempertunjukkan bagian tubuhnya pada anak/remaja secara cabul, tidak pantas. Atau pelaku mengambil gambar atau merekam anak/remaja dalam aktivitas yang tidak senonoh, dalam adegan seksual yang jelas nyata maupun adegan yang secara tersamar memancing pemikiran seksual.

Contohnya, pelaku merekam anak yang sedang membuka bajunya. Atau pelaku memperdengarkan atau memperlihatkan visualisasi gambar foto/video dan semacamnya yang mengandung muatan seks dan pronografi, misalnya pelaku mengajak anak menonton film dewasa.

Pelaku tidak menghargai privasi anak/remaja misalnya dia tidak menyingkir atau justru menonton saat seorang anak mandi atau berganti pakaian. Pelaku melakukan percakapan bermuatan seksual dengan anak/remaja, baik eksplisit (bahasa lugas) atau implisit (tersamar) yang bisa dilakukan melalui telepon, chatting, internet, surat atau sms. Itu semua adalah bentuk- bentuk kekerasan seksual.

Mengapa orang cenderung melakukan kekerasan seksual?

Karena ada kesempatan, peluang atau ada masalah lain berkaitan dengan sosial, psikologis. Pelaku dan korban kekerasan seksual itu bisa laki-laki atau perempuan. Meski yang biasa terangkat ke permukaan itu cenderung pelakunya adalah pria dan korbannya adalah wanita dan anak-anak.

Kapankah kekerasan seksual itu bisa terjadi?
Kekerasan seksual itu bisa terjadi sebelum lahir, balita, anak, remaja, usia produktif maupun usia lanjut. Sebelum kelahiran misalnya terjadi penggguguran kandungan berdasarkan jenis kelamin bayi, pemukulan selama kehamilan, kehamilan paksa, pembunuhan anak, penganiayaan emosional dan fisik, perbedaan dalam memperoleh makanan/perawatan kesehatan/pendidikan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved