PARODI

Humor Kemerdekaan

Sekarang bukan saatnya humor tetapi serius. Karena itu kuminta ungkapkan puisi, kata mutiara, pantun, atau kisah yang dapat membangkitkan semangat

Humor Kemerdekaan
DOK POS KUPANG
Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- "Sekarang bukan saatnya humor tetapi serius. Karena itu kuminta ungkapkan puisi, kata mutiara, pantun, atau kisah-kisah yang dapat membangkitkan semangat kemerdekaan," itulah pedoman khusus yang harus ditaati dalam perlombaan HUT kemerdekaan.

Sayangnya dua orang teman tidak setuju. Keduanya capek nonton berita rupiah anjlok, perseteruan pilkada, kekerasan terhadap perempuan ibu dan anak, penangkapan teroris, temuan ratusan kilogram narkoba, dagang sapi dan daging sapi, impor ekspor, kekeringan, gagal panen, putus kuliah, pengangguran, perkosaan dan lain-lain.

***

"Pusing pikir yang sudah-susah," kata Rara.
"Jadi lebih baik bicara yang ringan dan lucu dalam HUT kemerdekaan kali ini."
"Enam belas Agustus tahun empat lima. Itulah hari." Rara mulai menyanyi untuk HUT Kemerdekaan RI namun dipotong Jaki. "Salah! Tujuh belas Agustus tahun empat limaàjangan sembarangan. Tujuh belas itu sakral," kata Jaki. "Dengar dulu saya nyanyi sampai habis," protes Rara. "Enam belas Agustus tahun empat lima," Jaki potong lagi.

"Stop! Bukan enam belas tetapi tujuh belas!"
"Makanya dengar dulu," kata Rara lagi.
"Silakan! Awas kalau salah!"

"Enam belas Agustus tahun empat lima. Besoknya hari kemerdekaan kita," Rara sangat gembira disambung dengan tawa Ria Jaki dan dua temannya yang lain. "Dapat ide dari mana?" Tanya Jaki. "Biasalah, dunia maya penuh cerita."

"Bagaimana Nona Mia? Apakah kamu juga bisa buat humor kemerdekaan. Kalau tidak bisa telusuri dengan jarimu, ketemu, langsung on."
"Ada"!

***

"Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke," demikian kata Nona Mia.

"Bukan humor. Terlalu serius," potong Jaki dan Rara bersamaan. "Kutip dari mana?"
"Ini kata-kata Bung Karno Proklamator kita," kata Nona Mia.

Halaman
123
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved