Kamis, 7 Mei 2026

Peserta Sail Indonesia di Kupang tak Diarahkan ke Tempat Wisata

Sekarang tidak ada lagi. Kegiatan ini semestinya memperkenalkan berbagai tempat wisata di Kota Kupang dan daerah lain di NTT seperti Pantai Tablolong.

Tayang:
Editor: Ferry Ndoen

POS KUPANG.COM, KUPANG-- Para peserta Sail Indonesia 2015 yang berkunjung ke NTT memberikan apresiasi dengan beberapa kegiatan penyambutan yang digelar pemerintah. Tetapi, para peserta sail lebih senang kalau mereka diarahkan langsung ke lapangan seperti beberapa tempat wisata di berbagai kabupaten.

"Tahun lalu, pemerintah menyediakan kendaraan bagi peserta sail untuk berkunjung langsung ke beberapa tempat wisata unggulan di NTT.

"Sekarang tidak ada lagi. Kegiatan ini semestinya memperkenalkan berbagai tempat wisata di Kota Kupang dan daerah lain di NTT seperti Pantai Tablolong, Gua Kristal atau Pantai Lasiana. Pasalnya, tidak semua peserta memiliki uang yang banyak untuk membayar guide dan menuju lokasi wisata," ujar Emy Tabun, salah satu guide peserta sail kepada Pos Kupang di Pantai Teddys Bar Kupang, Jumat (31/7/2015).

Emy menjelaskan, para turis senang dengan sambutan masyarakat Kota Kupang. Namun sejatinya mereka menginginkan lebih mengenal budaya dan adat masyarakat NTT, makanan khas hingga tempat wisata di NTT. Dengan demikian saat mereka kembali ke negara masing-masing akan menceritakan aneka pengalaman yang baik ketika berkunjung ke NTT.

Ia menjelaskan, tahun ini jumlah kapal yang mampir di NTT hanya 40-an kapal. Kondisi ini jauh berbeda dengan jumlah kapal yang berkunjung tahun lalu mencapai 200-an kapal. Ia mengungkapkan persoalan birokrasi di wilayah mereka tidak menyulitkan. Sementara sesampainya di Indonesia, para peserta harus menghadapi banyak persoalan birokrasi.

Ia menceritakan, sail sebelumnya salah satu peserta
mengeluhkan ulah oknum aparat yang mengambil minuman milik peserta saat berkunjung ke kapal. Bahkan peserta itu sampai menangis lantaran minuman yang tersedia di kapal diambil banyak oleh oknum aparat tersebut.

"Tahun ini, beberapa peserta sail kecewa dengan terjadinya perbedaan harga bahan bakar solar dan biaya kapal pengangkut penumpang dari kapal sandar hingga daratan.Hal ini akan memberikan kesan yang buruk. Jangan sampai satu masalah tetapi dikaitkan dengan banyak hal," ujarnya.

Menurut Emy, panitia dan peserta sail banyak yang kebingungan dengan berbagai event yang digelar pemerintah. Panitia dan peserta sebelumnya tidak mendapat pemberitahuan tentang aneka kegiatan yang digelar pemerintah. "Lebih bagus lagi pemerintah membuat jadwal kegiatan dan memberitahukan kepada panitia atau koordinator peserta sail saat Sail Indonesia digelar. Sehingga mereka bisa persiapan dengan lebih baik," kata Emy.

Emy mengatakan, usai dari Kota Kupang diharapkan daerah lain yang akan dikunjungi peserta sail dapat mempersiapkan lebih baik. Bila perlu pemerintah setempat berkoordinasi dengan koordinator peserta sail tentang obyek wisata yang hendak dikunjungi dan kegiatan yang diinginkan para peserta sail. "Para peserta sail juga banyak yang menginginkan ke sekolah-sekolah dan pantai asuhan untuk memperkenalkan Australia dan berbagai pengalaman tentang bagaimana mereka perjalanan berlayar dari Australia sampai NTT. (aly)

Banyak Sampah Plastik

SALAH satu peserta sail, Jackie Griggs berasal dari Adelaide, Australia Utara menyatakan peserta sail banyak menemukan sampah plastik berhamburan di pantai di Kota Kupang. Kondisi itu sangat berbeda saat mereka berada di Australia yang bersih dari sampah.

"Saat kami berada di Australia kami tidak menemukan sampah bertebaran di tempat wisata. Tetapi di Kota Kupang, kami menjumpai banyak sampah seperti plastik di pantai. Semestinya sampah-sampai itu dibersihkan sehingga pantai nampak bersih dan indah dinikmati," ujar Jackie kepada Pos Kupang, di Cafe 999 Pantai Teddys Bar Kupang, Jumat (31/7/2015).

Ia menceritakan, masyarakat Australia selalu menjaga kebersihan agar kotanya terlihat indah dan bersih. Bahkan setiap tahun ada kegiatan yang digalakkan untuk membersihkan sampah sehingga kota terlihat bersih dan indah.

Jackie menyatakan, saat berada di Kupang mereka akan mengunjungi sekolah untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak sekolah saat mereka berlayar dari Austraila hingga Kupang. Selain itu belum ada rencana kegiatan lainnya di Kota Kupang.
Ia mengatakan, tidak ada undangan dari pemerintah untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata di Kota Kupang. Untuk itu, kata Jackie, ia bersama suami dan dua anaknya memilih berjalan-jalan ke pasar tradisional seperti Oeba. Mereka berbelanja pisang, ikan hingga sayur-sayuran. (aly)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved